Harga: Rp. 55.000---
Kondisi: Baru---

Novel terbarunya Pidi Baiq ini bercerita tentang kisah cinta masa SMA antara cowok anggota geng motor yang cerdas, kreatif dan nyeleneh bernama Dilan dengan Milea, siswi baru di sekolahnya Dilan yang cantik, manis dan baik. Cerita yang dikemas ringan ini menampilkan kisah cinta yang unik, aksinya Dilan untuk menunjukkan cintanya kepada Milea selalu tak biasa, lucu tapi tetap romantis.

Membaca novel Dilan ini akan bikin kita rindu setidaknya pada tiga hal. Pertama, masa SMA. Kita akan dijejali scene persekolahan seperti situasi jam istirahat di kantin, bandel saat upacara, tragedi guru sok jagoan, serta suasana tempat tongkrongan. Kedua, masa-masa awal jatuh cinta. Maklum, cerita ini kan memang berkisah tentang sejoli yang menjajaki hubungan dari nol sampe ke tahap paling klimaks dalam hubungan: jadian.  Ketiga, yang juga kental banget terasa di novel ini adalah nuansa 90an. Buku ini adalah mesin waktu yang mengajak kita untuk melihat lagi bagaimana pacaran tanpa ponsel dan hanya mengandalkan telpon rumah dan betapa sakralnya sebuah surat cinta. Karena terbatas dan selalu berjeda, komunikasi antara Dilan dan Milea saat tak bersama jadi begitu istimewa. Cerita cinta jaman lawas tan tak serba instan selalu punya kualitasnya sendiri.



Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0812 9840 1388 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 
Read More ...

0 comments


Harga: Rp. 59.000---
Kondisi: Baru (bertanda tangan asli penulis)---

Novel terbarunya Pidi Baiq ini bercerita tentang kisah cinta masa SMA antara cowok anggota geng motor yang cerdas, kreatif dan nyeleneh bernama Dilan dengan Milea, siswi baru di sekolahnya Dilan yang cantik, manis dan baik. Cerita yang dikemas ringan ini menampilkan kisah cinta yang unik, aksinya Dilan untuk menunjukkan cintanya kepada Milea selalu tak biasa, lucu tapi tetap romantis.

Membaca novel Dilan ini akan bikin kita rindu setidaknya pada tiga hal. Pertama, masa SMA. Kita akan dijejali scene persekolahan seperti situasi jam istirahat di kantin, bandel saat upacara, tragedi guru sok jagoan, serta suasana tempat tongkrongan. Kedua, masa-masa awal jatuh cinta. Maklum, cerita ini kan memang berkisah tentang sejoli yang menjajaki hubungan dari nol sampe ke tahap paling klimaks dalam hubungan: jadian.  Ketiga, yang juga kental banget terasa di novel ini adalah nuansa 90an. Buku ini adalah mesin waktu yang mengajak kita untuk melihat lagi bagaimana pacaran tanpa ponsel dan hanya mengandalkan telpon rumah dan betapa sakralnya sebuah surat cinta. Karena terbatas dan selalu berjeda, komunikasi antara Dilan dan Milea saat tak bersama jadi begitu istimewa. Cerita cinta jaman lawas tan tak serba instan selalu punya kualitasnya sendiri.

Oya, saat Pidi Baiq berkunjung ke Jakarta, kami menyempatkan diri untuk datang dan memintakan tanda tangan pada buku yang kami jual untuk kalian ini. Jadi semakin spesial deh buku ini. Mari dimiliki, dibaca dan dikoleksi. :D


Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0812 9840 1388 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 
Read More ...

1 comments




Perkenalkan: Dilan. Tokoh yang pasti akan menjadi idola ketika kalian sudah tahu ceritanya. Dia hidup dalam semesta yang direka oleh Pidi Baiq. Semesta berwujud novel itu berjudul Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Dilan, dalam cerita ini, adalah sosok cowok remaja kelas dua SMA yang punya karakter diri yang otentik. Kita akan menemukan sosok Ali Topan ketika mengetahui Dilan adalah anggota geng motor, jadi salah satu pentolan sekolah tapi otaknya encer.  Ia selalu juara satu di kelasnya. Rebel tapi cerdas. Ia punya jiwa revolusioner. Tapi kita juga menemukan Lupus dalam Dilan. Dia  humoris, suka iseng dan aksinya nyeleneh.

Pidi Baiq juga mencipta semesta kecil bernama Milea. Gadis cantik, teman sekolah Dilan, yang pernah terlibat cinta dengannya. Dari sudut pandang Milea semua cerita Dilan dibeberkan. Di suatu waktu, Milea yang kini sudah berkeluarga, teringat sosok Dilan, pacarnya di masa SMA yang sangat ia cintai. Milea pun menuliskan ceritanya. 

Saat itu, di sekolahnya, Milea adalah murid baru. Pindahan dari Jakarta. Ia ikut pindah ke Bandung karena ayahnya yang TNI itu ditugaskan di sana. Milea kerap dipuji cantik oleh kawan-kawannya. Tentu banyak yang naksir juga. Ada Nandan si anak basket, Anhar si ketua geng motor, Kang Adi mahasiswa ITB yang jadi guru privatnya, dan pastinya, Beni, pacarnya di sekolah lama di Jakarta.

Tapi, semua cinta yang dialamatkan ke Milea tak berbalas. Hanya satu anak yang bisa menaklukkan hati Milea. Dia adalah si Dilan tentunya, siswa  kelas 2 Fisika 1, anggota geng motor dan juga dikenal sebagai pentolan sekolah itu. Tapi Milea bukan terbius kepada Dilan karena sisi macho-nya, melainkan karena karakter lainnya yang unik, dan cara memperlakukan Milea yang otentik. Berbeda dengan cowok kebanyakan.
  
Sebagai pembaca karya-karya sastra, koran Tempo dan pengagum tokoh-tokoh revolusioner, Dilan yang juga humoris ini jadi punya gaya romantisnya tersendiri. Bayangkan saja, Dilan pernah mengirimkan surat ke Milea yang berisi undangan untuk hadir ke sekolah setiap hari. Di hari ulang tahun Milea, Dilan telat memberi selamat, tapi kado darinya adalah yang paling Milea kenang: buku TTS berkover model Cina yang semua TTS-nya sudah diisikan oleh Dilan. “Aku sayang kamu. Aku Tidak mau kamu pusing karen harus mengisinya,” itu pesan Dilan di kado TTSnya. Caranya menunjukkan cinta selalu nyeleneh, mengejutkan dan bikin heran tapi selalu sukses membuat Milea tersipu. Aksi Dilan menitipkan cokelat ke pedagang-pedagang yang lewat rumah Milea juga selalu membuat Milea merasa diistimewakan tak hanya oleh Dilan tetapi oleh semesta. 

Milea yang awalnya mau mau malu pun akhirnya selalu mau-mau-selalu kepada Dilan. 

Tentu, di cerita ini hubungan Dilan-Milea tak melulu lancar. Perlu diingat lagi, Dilan adalah anak gengmotor dan Milea ditaksir banyak cowok. Beragam konflik terjadi karena hal itu. Tak begitu mendebarkan, tapi tetap kuat. Dan selalu, konflik berujung pada suasana yang manis. 

Membaca novel Dilan ini akan bikin kita rindu setidaknya pada tiga hal. Pertama, masa SMA. Dari saat saat melihat warna kover buku saja, kita sudah diingatkan dengan warna celana seragam SMA. Lalu, kita akan dijejali scene persekolahan seperti situasi jam istirahat di kantin, bandel saat upacara, tragedi guru sok jagoan, serta suasana tempat tongkrongan. 

Kedua, masa-masa awal jatuh cinta. Maklum, cerita ini kan memang berkisah tentang sejoli yang menjajaki hubungan dari nol sampe ke tahap paling klimaks dalam hubungan: jadian. Kalian yang sudah punya pacar pasti bakal jatuh cinta lagi dan diam-diam bakal merencanakan aksi romantis seperti yang dilakukan Dilan.

Ketiga, yang juga kental banget terasa di novel ini adalah nuansa 90an. Buku ini adalah mesin waktu yang mengajak kita untuk melihat lagi bagaimana pacaran tanpa ponsel dan hanya mengandalkan telpon rumah dan betapa sakralnya sebuah surat cinta. Karena terbatas dan selalu berjeda, komunikasi antara Dilan dan Milea saat tak bersama jadi begitu istimewa. Cerita cinta jaman lawas tan tak serba instan selalu punya kualitasnya sendiri. 

Soal penulisan, pembabakan dan alur cerita, novel ini tak beda dengan gaya penulisan Pidi Baiq di buku-buku sebelumnya. Selalu ringan, sederhana tapi berkesan. Walau segala tulisan di buku ini ceritanya adalah tulisan langsung tokoh Milea tapi gaya penulisannya pun khas Pidi Baiq sekali. Saat Milea mulai menuliskan catatannya tentang Dilan, dia bilang kalau gaya penulisannya akan dibuat seperti gaya tulisan Dilan. Gaya bahasa Indonesia yang nyaris baku, susunan kalimatnya kadang tak lazim dan diputar-putar dan ada kesan filosofis dalam kesederhaan diksinya. Itu adalah gaya bahasa Dilan. Mirip dengan gaya Pidi Baiq bukan? karena itulah tak salah jika selain mempunyai karakter Ali Topan dan Lupus saya juga menanggap Dilan adalah perwujudan dari sosok Pidi Baiq sendiri. Apalagi Pidi Baiq kan memang ngefans sama Bob Dylan. 

O ya, mengutip ulasan salah satu anggota Goodreads, novel ini juga mengajarkan kita bahwa novel tak harus rumit dalam masalah set tempat dan waktu. Semesta Dilan dan Milea di novel ini hanyalah sekolah, warung Bi Eem, rumah Milea, Rumah Dilan dan beberapa jalanan di Bandung. Itu pun tak digambarkan dengan detil. 

Jangan gengsi untuk membaca kisah cinta masa SMA ini. Walau kental dengan cerita abege, novel ini kan digarap oleh Pidi Baiq, jadi tak menye-menye. Sungguh, entah kamu laki-laki atau perempuan, Dilan akan membuatmu terkesan. 

Mari dibaca. Mari bernostalgia. Mari ‘jatuh cinta’. 


Read More ...

6 comments



Judul : Hanya Salju dan Pisau Batu-- 
Penulis : Pidi Baiq dan Happy Salma-- 
Rate : Menyenangkan sekaligus menyebalkan-- 
Uuh moment : "Alienasi"

Ini adalah buku kolaboratif. Ditulis oleh Pidi Baiq dan Happy Salma. Ah, kenapa saya malah menuliskan Pidi Baiq lebih dulu dibanding Happy Salma, berbeda dengan yang dituliskan di buku. Tak jelas apakah buku ini fiksi atau bukan. Tulisannya bercampur-campur antara curhatan, cerita fiksi pendek, cerita fakta berkedok fiksi dan gagasan serta opini yang bahkan terkadang kritis sekaligus filosofis.

Buku ini menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena bikin penasaran. Apakah gerangan yang akan menjadi tulisan balasan untuk tulisan sebelumya. Pertanyaan itu jadi bahan bakar yang membuat saya terus melanjutkan buku sampai habis.

Bentuk tulisan yang saling berbalas ini juga membuat saya teringat dengan budaya berkirim surat dengan sahabat pena yang belum pernah bertatap muka. Dan ternyata benar, Pidi Baiq dan Happy Salma saat menulis buku ini belum pernah bertemu sama sekali (Tapi dari situ timbul pertanyaan, apa yang membuat mereka berkolaborasi membuat buku. Hmm, mungkin karena Happy Salma selebritis dan dia membaca buku Pidi Baiq)

Aksi berbalas cerita ini mengingatkan saya pada kisah Mary dan Max di film Mary and Max, dua sahabat pena beda umur dan dipisahkan jarak yang begitu jauh. Mary di Australia, Max di Amerika. Mereka begitu intim bertukar kisah dan pemikiran, bahkan hingga bertahun-tahun. 

Berdasarkan pengalaman pribadi dalam berkirim kartu pos pun, saya juga merasakan serunya bertukar cerita dengan orang asing. Mungkin karena itu juga buku ini menyenangkan bagi saya. Entah gimana, saya malah bisa mencurahkan isi hati kepada orang yang saya tak kenal itu. Dan begitu jugalah yang terjadi pada buku ini, Happy Salma terasa begitu mantap menceritakan kejadian-kejadian di hidupnya. Buku ini pun tak jadi sepenuhnya buku fiksi, karena Happy bercerita seperti dia menulis diari. Dia bercerita tentang sosok Ayahnya yang ia cinta, tentang pertunjukan teater yang ia hadiri, tentang masa kecilya, juga tentang kegilasahannya atas gaji teman kerjanya yang sangat kecil.

Pidi Baiq, selalu merespon cerita-cerita Happy Salma. Entah dengan banyolan ngawur, uraian filosofis dan logis tentang apa yang dipersoalkan di cerita Happy Salma; dengan cerita fiksi yang satu tema, atau mengurai gagasan-gagasan kritis. Ya, di buku ini, Pidi Baiq sering sekali mengeluarkan sisi kritisnya. Contohnya, Pidi Baiq bahkan, dalam tulisan berjudul Alienasi, mengutip Karl Marx untuk merespon cerita Happy Salma tentang penghasilan seorang seniman. 

Sayangnya, dan juga curangnya, tulisan-tulisan Pidi Baiq sangat jarang direspon oleh Happy Salma. Hmm, apa memang kolaborasi ini memang dibuat satu arah? Ah, oke, catat ini sebagai hal yang menyebalkan dari buku ini.

Menarik untuk dicermati juga kehidupan Happy Salma ini. Tuturan ceritanya mencerminkan bagaimanakah gaya hidup masyarakat kelas menengah yang suka sastra. Dia berpenghasilan tinggi, bergaul dengan sosialita, ikut arisan rutin bersama ibu-ibu sekelasnya, menaruh atensi lebih pada detil, termasuk pada ketimpangan yang terjadi di lingkungannya, ia iba pada rekan kerjanya yang kerjanya berat tapi gajinya sangat kecil. Ia sadar gajinya berkali-kali lipat lebih besar daripadanya, ia juga sadar kalau rasa ibanya besar. Ia berbelas kasih. Tapi sayang, tanpa aksi. Ia hanya bisa diam, dan tak bekutik sedikitpun. Ia hanya bisa iba. Ah, persis sekali dengan kelas menengah lainnya yang berisik mengeluh di Twitter.


Pidi dan Happy sama-sama kelas menengah. Tapi mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Pidi gemar memberi uang kepada orang asing secara spontan. Ia juga akrab bergaul dengan tetangganya. Dan Pidi hidup apa adanya, sederhana dan otentik, persis seperti gaya tulisannya. Tidak berbunga-bunga mencoba nyastra seperti  gaya tulisan Happy Salma. 
Read More ...

0 comments


Harga :  Rp 30.000--
Harga Asal : Rp 49.000--
Kondisi : Baru (stok lama)--
Penulis : Happy Salma dan Pidi Baiq--
Penerbit : Qanita--

Buku ini berisi kumpulan cerita yang saling berbalas. Persis seperti dua sahabat yang terpisah jauh bertukar kabar, dan sahut-menyahuti ceritnyaa. Cerita Happy Salma selalu lebih dulu, lalu Pidi Baiq meresponnya. Keduanya bercerita dengan gayanya yang khas. Happy Salma dengan gaya yang nyastra, Pidi Baiq berceloteh dengan gayanya yang nyasar. Hehe. 

Lewat buku ini, sekaligus kita bisa mengetahui sosok Happy Salma lengkap dengan cerita-cerita hidupnya sebagai seorang aktris, seorang yang tanpa kekasih dan seorang yang cinta sekali dengan Ayahnya. 
Membaca 30 cerita di buku ini sangat menarik. Salah satunya adalah karena kita selalu dibuat penasaran dengan cerita berikutnya. Saat membaca cerita Happy yang begitu intim dan kadang melankolis, kita penasaran akan sengaco apakah curhatan itu akan di balas Pidi Baiq.

===

  • Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0856 9333 2218 / 0856 997 1122 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 


  • atau bisa juga dengan mengisi formulir di bawah ini:





  • Sesegera mungkin kami akan melakukan konfirmasi pemesanannya. 
  • Pembayaran dilakukan setelah mendapat email konfirmasi
  • Pembayaran dilakukan via tranfer ke rek BCA an Fertina Nurisa Mitra 884 023 9447
Read More ...

0 comments




Judul : SPBU Dongeng Sebelum Bangun 
Pengarang : Pidi Baiq 
Rate : Bikin Niat Tidur Jadi Batal Karena Jadi Seger Ketawa. 
Uhh Moment : Ketika Alien Dip Dip Pop Melahap Baliho Bergambar Musuhnya. Hap! 

Saya kaget mengetahui kalau Pidi Baiq ternyata menerbitkan komik juga. Betapa saya ketinggalan info. Padahal saya ngaku fans beratnya Pidi Baiq, walaupun bobot badan saya hanya 62 kg. saya bukan fans yang berat. Menarik pasti kalau Pidi yang emang alur pikiran dan cerita-cerita yang dibuatnya itu udah komik banget, bikin komik. Jadinya komik kuadrat. 

Tapi ternyata Pidi Baiq tidak menggambar komiknya, melainkan ia dibantu oleh Rizki Goni. Pidi hanya menulis ceritanya. Tak apa. Tak menurunkan harapan saya. Buku ini tetap menarik sebelum saya baca. 

Jangan harap bisa mengerti isi buku hanya dari judulnya. Coba saja. Apa yang bisa kita dapat dari judul S.P.B.U Dongeng Sebelum Tidur? Ada yang sama seperti saya, mengira kalau Dongeng SEbelum Tidur adalah kepanjangan dari S.P.B.U?  kalau ada, berarti kita sama-sama terkecoh. 
Adalah benar bahwa buku ini berisi dongeng. Kalau kita baca ceritanya, kita pasti akrab. Pertama, tentang si siput yang adu lari dengan si kelinci. Kedua, tentang si kancil yang mengkibuli buaya-buaya di sungai sehingga ia bisa menyebrang. Nah, kalau biasanya kedua dongen selalu mengisahkan kebaikan dan disusupi pesan moral, sehingga baik untuk dibacakan sebelum tidur, di tangan Pidi dongeng tersebut jadi keluar jalurnya. 

Pidi memberikan ending baru pada dongeng lama itu. Si Siput tentu jadi tidak menang dari kelinci yang larinya cepat. Dia kalah sekalah-kalahnya, tidak seperti dongeng aslinya yang bercerita kalau si kelinci akan sombong di pertandingan dan tidur sehingga Si Siput bisa menang. Di akhir cerita, Pidi memberikan petuah “Jangan sombong karena sombong itu sangat menyakitkan orang yang belum memilki kesempatan untuk sombong.” 

Begitu juga dengan dongeng Si Kancil. Ia tidak jadi bisa menipu para buaya-buaya yang akan memangsanya itu. Karena bagi Pidi, masa iya sudah sekian puluh tahun dan sekian generasi, buaya masih saja ketipu sama akal bulus kancil. Saatnya emansipasi buaya! 

Hanya ada tiga dongeng dalam buku tipis ini. Dua di antaranya sudah saya bocorin ceritanya. Harus jugakah cerita terakhir ini? Baiklah. Sedikit saja. Yang ketiga ini kayaknya belum ada dongeng sebelumnya. Pidi mereka ceritanya sendiri. Bercerita tentang kedatangan alien besar menyerang bumi. Hingga kemudian ada seorang pahlawan datang menyelematkan. Di cerita ketiga inilah kita bakal tahu kenapa judul buku ini adalah S.P.B.U. 

Saya selalu suka karya-karya Pidi Baiq. Di dalam kesederhanaan, kekanakak-kanakan dan kejenakaan ceritanya, Pidi tetaplah Pidi, yang pernah kuliah Filsafat di Amsterdam dan pernah jadi Dekan di kampus ITB. Semua kebesarannya itu, sedikit-sedikit meninggalkan jejak juga di komik satu ini. 

Soal gambar. Saya tidak tahu persis cara menilainya. Tapi saya suka dengan wujud-wujud karakter yang ada di komik. Di dongeng ketika apalagi, pengadeganannya pas. Situasi perkotaan yang jadi set cerita juga keren. Suatu saat saya pengin menjiplak beberapa gambarnya. 

Buku ini seru untuk dibaca, apalagi kita hanya butuh paling lama setengah jam untuk melahapnya. 

Read More ...

0 comments



Harga : Rp 20.000--
Harga penerbit : Rp 30.000 -
Kondisi: Baru (stok lama)--
Penulis : Pidi Baiq-- 
Komikus : Rizki Goni-- 
Penerbit : CAB--
Jumlah Halaman : 116--

Jangan harap bisa mengerti isi buku hanya dari judulnya. Coba saja. Apa yang bisa kita dapat dari judul S.P.B.U Dongeng Sebelum Tidur? Ada yang sama seperti saya, mengira kalau Dongeng SEbelum Tidur adalah kepanjangan dari S.P.B.U?  kalau ada, berarti kita sama-sama terkecoh. 

Adalah benar bahwa buku ini berisi dongeng. Kalau kita baca ceritanya, kita pasti akrab. Pertama, tentang si siput yang adu lari dengan si kelinci. Kedua, tentang si kancil yang mengkibuli buaya-buaya di sungai sehingga ia bisa menyebrang. Nah, kalau biasanya kedua dongena selalu mengisahkan kebaikan dan disusupi pesan moral, sehingga baik untuk dibacakan sebelum tidur, di tangan Pidi dongeng tersebut jadi keluar jalurnya. Pidi memberikan ending baru pada dongeng lama itu. 

Lewat komik ini, Pidi Baiq membuat kengawuran yang logis dan kejenakaan yang satir untuk kita mimpikan dan khayalkan sebelum akhirnya kita bangun…dan sadar. 

Buku ini seru untuk dibaca, apalagi kita hanya butuh paling lama setengah jam untuk melahapnya.

===

  • Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0856 9333 2218 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 


  • atau bisa juga dengan mengisi formulir di bawah ini:




  • Sesegera mungkin kami akan melakukan konfirmasi pemesanannya. 
  • Pembayaran dilakukan setelah mendapat email konfirmasi
  • Pembayaran dilakukan via tranfer ke rek BCA an Fertina Nurisa Mitra 884 023 9447
Read More ...

1 comments