Faust
Johann Wolfgang von Goethe (seri komik)
Uhh moment: "penggambaran Mephis yang datang sebagai anjing, bukan sebagai suara-suara aneh di perpustakaan Faust."
Pertama kali kenal dengan karya terkenal dari Goethe ini, ketika saya masih kuliah. Saya langsung mengenal dua format penulisan sastranya, novel dan dramanya. Antara dua format itu saja, sudah ada perbedaan pastinya, terlebih dari segi dialognya. Tapi ketika saya menemukan buku ini format lain dari Faust, saya langsung sangat tertarik. Bagaimana tidak, Faust yang dikenal sebagai salah satu karya sastra yang cukup "berbobot" ini dibuat versi komiknya. Tanpa pikir panjang, saya ambil dan baca komik ini.
Kisah dimulai saat kegelisahan Doktor Faust akan apa yang telah diraihnya. Setiap orang yang ada disekelilingnya selalu kagum atas pencapaian akademik dan karirnya yang selalu lebih tinggi dibandingkan orang lain dan karena itu pula Doktor Faust sangat disegani dan sering dimintai pendapatnya mengenai sesuatu yang ilmiah. Tapi suatu saat, setelah ia mendapat gelar Doktor, Faust malah terlihat sedih. Ia selalu merasa kurang dengan pencapaiannya, selalu tidak puas dan terlebih ia juga merasa kesepian karenanya.
Ia mengeluh apapun yang ia bisa ia keluh, dari mulai kebodohannya melewati masa mudahnya untuk mengkaji ilmu pengetahuan atau pencapaiannya yang belum banyak dan belum mendalam. Tiba-tiba seekor anjing masuk ke dalam ruangannya. Karena merasa anjing tersebut tersesat dari tuannya, Faust membiarkan anjing itu melihat dan mendengar segala kejadian di ruangan itu. Saking ia penasaran akan segala sesuatu yang belum terungkap dan ditambah rasa kesepiannya, Faust ingin meneguk racun untuk mengetahui seperti apa manusia setelah mati. Sayangnya, rencananya tidak bisa dilakukan. Ketika ia ingin menegukan racun tersebut, sang anjing tadi meneriakan namanya, nama Faust.
Seketika Faust pun terkejut dan menghentikan usahanya tersebut. Ketika ia memperhatikan anjing itu, sang anjing sudah berubah menjadi iblis. Kedatangan sang iblis bukan lah mendadak, sang iblis sudah memperhatikan Faust sejak lama dengan sebuah misi. Iblis mengetahui kegelisahan Faust dan menawarkan sebuah penukaran dengan satu syarat yang langsung diterima oleh Faust. Awalnya, Faust merasa keputusan yang diambilnya sangat tepat. Tapi lambat laun, kebodohannya pun terlihat. Hingga akhirnya ia harus kehilangan gadis pujaannya, bahkan kehilangan jati dirinya. Ketika ia sadar, ternyata ia hanya mencari sesuatu yang sia-sia dan saat itu sudah terlambat.
Secara garis besar, kisah dan tokoh dalam novel, drama dan komik Faust tidak banyak perbedaannya. Seperti pada tokohnya yang terdiri dari Doktor Faust, Mephisto, Gretchen, dan Valentin. Kisahnya pun sama, Faust seorang doktor dan ilmuan hebat, akan tetapi memiliki jiwa yang sepi. Tapi bagaimana pun, komik yang diangkat dari kisah novel, pasti ada beberapa bagian yang berbeda untuk membuat plot tersebut pas untuk porsi komik. Salah satu contohnya adalah sosok iblis Mephisto yang dibuat menjadi anjing di komik, sementara di kisah asalnya Mephisto membayang-bayangi Faust dengan suara-suara yang timbul saat ia sedang di ruangannya. Atau adegan asusila Faust dan Gretchen yang dibuat di sebuah taman yang indah, sementara di kisah awalnya mereka melakukan hal tersebut di kamar Gretchen. Wajar saja itu terjadi, karena mendia yang digunakannya berbeda, asal tidak jauh melenceng dari kisah aslinya. Membaca seri komik world's masterpiece ini bisa menjadi bacaan alternatif dari kisah Faust yang susah dicari di Indonesia atau pula yang tidak suka membaca kisah awalnya yang terlalu berat.
Categories:
Buku Si Kupu,
komik,
ulasan