Perkenalkan: Dilan. Tokoh yang pasti akan menjadi idola ketika kalian sudah tahu ceritanya. Dia hidup dalam semesta yang direka oleh Pidi Baiq. Semesta berwujud novel itu berjudul Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 1990. Dilan, dalam cerita ini, adalah sosok cowok remaja kelas dua SMA yang punya karakter diri yang otentik. Kita akan menemukan sosok Ali Topan ketika mengetahui Dilan adalah anggota geng motor, jadi salah satu pentolan sekolah tapi otaknya encer.  Ia selalu juara satu di kelasnya. Rebel tapi cerdas. Ia punya jiwa revolusioner. Tapi kita juga menemukan Lupus dalam Dilan. Dia  humoris, suka iseng dan aksinya nyeleneh.

Pidi Baiq juga mencipta semesta kecil bernama Milea. Gadis cantik, teman sekolah Dilan, yang pernah terlibat cinta dengannya. Dari sudut pandang Milea semua cerita Dilan dibeberkan. Di suatu waktu, Milea yang kini sudah berkeluarga, teringat sosok Dilan, pacarnya di masa SMA yang sangat ia cintai. Milea pun menuliskan ceritanya. 

Saat itu, di sekolahnya, Milea adalah murid baru. Pindahan dari Jakarta. Ia ikut pindah ke Bandung karena ayahnya yang TNI itu ditugaskan di sana. Milea kerap dipuji cantik oleh kawan-kawannya. Tentu banyak yang naksir juga. Ada Nandan si anak basket, Anhar si ketua geng motor, Kang Adi mahasiswa ITB yang jadi guru privatnya, dan pastinya, Beni, pacarnya di sekolah lama di Jakarta.

Tapi, semua cinta yang dialamatkan ke Milea tak berbalas. Hanya satu anak yang bisa menaklukkan hati Milea. Dia adalah si Dilan tentunya, siswa  kelas 2 Fisika 1, anggota geng motor dan juga dikenal sebagai pentolan sekolah itu. Tapi Milea bukan terbius kepada Dilan karena sisi macho-nya, melainkan karena karakter lainnya yang unik, dan cara memperlakukan Milea yang otentik. Berbeda dengan cowok kebanyakan.
  
Sebagai pembaca karya-karya sastra, koran Tempo dan pengagum tokoh-tokoh revolusioner, Dilan yang juga humoris ini jadi punya gaya romantisnya tersendiri. Bayangkan saja, Dilan pernah mengirimkan surat ke Milea yang berisi undangan untuk hadir ke sekolah setiap hari. Di hari ulang tahun Milea, Dilan telat memberi selamat, tapi kado darinya adalah yang paling Milea kenang: buku TTS berkover model Cina yang semua TTS-nya sudah diisikan oleh Dilan. “Aku sayang kamu. Aku Tidak mau kamu pusing karen harus mengisinya,” itu pesan Dilan di kado TTSnya. Caranya menunjukkan cinta selalu nyeleneh, mengejutkan dan bikin heran tapi selalu sukses membuat Milea tersipu. Aksi Dilan menitipkan cokelat ke pedagang-pedagang yang lewat rumah Milea juga selalu membuat Milea merasa diistimewakan tak hanya oleh Dilan tetapi oleh semesta. 

Milea yang awalnya mau mau malu pun akhirnya selalu mau-mau-selalu kepada Dilan. 

Tentu, di cerita ini hubungan Dilan-Milea tak melulu lancar. Perlu diingat lagi, Dilan adalah anak gengmotor dan Milea ditaksir banyak cowok. Beragam konflik terjadi karena hal itu. Tak begitu mendebarkan, tapi tetap kuat. Dan selalu, konflik berujung pada suasana yang manis. 

Membaca novel Dilan ini akan bikin kita rindu setidaknya pada tiga hal. Pertama, masa SMA. Dari saat saat melihat warna kover buku saja, kita sudah diingatkan dengan warna celana seragam SMA. Lalu, kita akan dijejali scene persekolahan seperti situasi jam istirahat di kantin, bandel saat upacara, tragedi guru sok jagoan, serta suasana tempat tongkrongan. 

Kedua, masa-masa awal jatuh cinta. Maklum, cerita ini kan memang berkisah tentang sejoli yang menjajaki hubungan dari nol sampe ke tahap paling klimaks dalam hubungan: jadian. Kalian yang sudah punya pacar pasti bakal jatuh cinta lagi dan diam-diam bakal merencanakan aksi romantis seperti yang dilakukan Dilan.

Ketiga, yang juga kental banget terasa di novel ini adalah nuansa 90an. Buku ini adalah mesin waktu yang mengajak kita untuk melihat lagi bagaimana pacaran tanpa ponsel dan hanya mengandalkan telpon rumah dan betapa sakralnya sebuah surat cinta. Karena terbatas dan selalu berjeda, komunikasi antara Dilan dan Milea saat tak bersama jadi begitu istimewa. Cerita cinta jaman lawas tan tak serba instan selalu punya kualitasnya sendiri. 

Soal penulisan, pembabakan dan alur cerita, novel ini tak beda dengan gaya penulisan Pidi Baiq di buku-buku sebelumnya. Selalu ringan, sederhana tapi berkesan. Walau segala tulisan di buku ini ceritanya adalah tulisan langsung tokoh Milea tapi gaya penulisannya pun khas Pidi Baiq sekali. Saat Milea mulai menuliskan catatannya tentang Dilan, dia bilang kalau gaya penulisannya akan dibuat seperti gaya tulisan Dilan. Gaya bahasa Indonesia yang nyaris baku, susunan kalimatnya kadang tak lazim dan diputar-putar dan ada kesan filosofis dalam kesederhaan diksinya. Itu adalah gaya bahasa Dilan. Mirip dengan gaya Pidi Baiq bukan? karena itulah tak salah jika selain mempunyai karakter Ali Topan dan Lupus saya juga menanggap Dilan adalah perwujudan dari sosok Pidi Baiq sendiri. Apalagi Pidi Baiq kan memang ngefans sama Bob Dylan. 

O ya, mengutip ulasan salah satu anggota Goodreads, novel ini juga mengajarkan kita bahwa novel tak harus rumit dalam masalah set tempat dan waktu. Semesta Dilan dan Milea di novel ini hanyalah sekolah, warung Bi Eem, rumah Milea, Rumah Dilan dan beberapa jalanan di Bandung. Itu pun tak digambarkan dengan detil. 

Jangan gengsi untuk membaca kisah cinta masa SMA ini. Walau kental dengan cerita abege, novel ini kan digarap oleh Pidi Baiq, jadi tak menye-menye. Sungguh, entah kamu laki-laki atau perempuan, Dilan akan membuatmu terkesan. 

Mari dibaca. Mari bernostalgia. Mari ‘jatuh cinta’. 


Read More ...

6 comments





Rantau 1 Muara
A Fuadi


"Memang impian bisa jadi nyata tapi yang nyata bisa jadi hampa."

Demkian sepenggal kalimat monolog yang diucapkan oleh tokoh utamanya, Alif Fikri. Kalau diperhatikan lagi baik-baik kalimat ini, bisa dikatakan pendapat sang tokoh bukan hanya isapan jempol aja. Terkadang mimpi yang kita harapankan harus ditunda, sekalipun mimpi tersebut sudah diambang mata kenyataan. Sehingga, kita harus dipaksa memutar balik haluan dan mengelilingi jalan menuju mimpi itu sekali lagi.

Seperti kisah yang dibangun oleh A Fuadi di buku terakhir seri Tetralogi Negeri 5 Menara ini. Rantau 1 Muara adalah buku pamungkas dari kisah perjalanan sang tokoh utama, Alif Fikri, dalam memperjuangkan mimpi seorang bocah yang berasal dari daerah pinggir Danau Maninjau, Sumatera Barat. Ketiga buku ini membutikan kesabaran yang harus dirasakan Alif sebelum mencapai mimpinya ke Amerika. 

Rantau 1 Muara mengisahkan perjalanan hidup Alif sekembalinya dari Kanada. Setelah mengenyam enaknya hidup diperantauan daratan Amerika, Alif dihadapkan dengan setumpuk masalah, seperti; daftar ulang semester di kampusnya, uang kosan, dan juga serentetan urusan yang selama setahun ia tinggal ke Amerika. Ia menyadari setiap jalan yang ia tempuh, pasti selalu menemui lubang, sekaligus jalan baru yang diberikan Tuhan tanpa disangka-sangka. 

Tepat satu hari setelah sidang akhir skripsinya, Alif bertolak ke Singapura yang lagi mendapatkan beasiswa. Sepulangnya dari Singapura, kebanggaan diri yang sedikit melambungkan kepalanya, akhirnya harus tertunduk oleh krisis moneter yang bertepatan pada tahun 1999 atau saat Alif sedang masa pencarian kerja. Segala bentuk pekerjaan di koran lokal yang selama ini menyokongnya, terpaksa memberhentikannya. Usaha sudah ia kerahkan untuk mencari kerja demi kelanjutan hidup, bukan hanya hidupnya tapi juga hidup keluarganya. 

Hingga akhrinya, segala doanya dijawab oleh Tuhan dengan diterimanya Alif sebagai wartawan sebuah majalah terpercaya dan terberani yang dimiliki Indonesia sejak dulu. Setelahnya, Tuhan sudah menyiapkan rencana lain untuk hidup Alif. Dan semuanya bermula dari sini.


Membaca seri tetralogi ini selalu mempunyai kenikmatan sendiri bagi saya (Si Kupu). Dikarenakan package komplit bisa didapatkan di seri-serinya, seperti; covernya punya ciri khas dari segi font yang dipakai, ya layaknya seri buku yang dimiliki Harry Potter. Sehingga dengan melihat fontnya saja, kita sudah tau, mengacu kemana font tersebut. Ciri khas lainnya datang dari covernya. Sampul depan selalu menjadi misteri buat saya. Saya tidak melulu memperhatikan ilustrasi depan, karena menurut saya kadang keduanya tidak saling berkesinabungan. Misalnya, saya bisa saja suka covernya, tapi tidak menyukai isinya. Begitupun sebaliknya. Tapi, untuk trilogi ini, menurut saya keduanya saling melengkapi satu sama lain. Untuk pembuktian itu, silahkan saja membaca ketiga serinya. Happy reading! 
Read More ...

0 comments



Lalita (Seri Bilangan Fu)
Ayu Utami



Awal melihat buku ini yang terlintas adalah sebuah buku yang berhubungan dengan alam atau tumbuh-tumbuhan, seperti terlihat pada covernya. Tapi ternyata, Lalita yang  merupakan seri kedua dari Seri Bilangan Fu dan covernya merujuk pada pelukis botani Amir Hamzah dan Mohamad Toha untuk mengenang karya dan dedikasi mereka. Sepertinya gambar buah yang berbentuk bulat mengacu pada apa yang dimaksud dari kisah di dalamnya. Itu hanya analisa saya. Setelah saya menyelesaikannya.

Kisah ini dimulai dari kegelisahan Yuda pada dunia, dunianya dan dunia yang ada di sekelilingnya. Dunia nyata dan dunia fana. Lalu, tanpa tau arah langkahnya, Yuda bertemu dengan temannya yang bernama Oscar dan pada saat itu lah akhirnya Yuda bertemu dengan Lalita. Wanita yang cerdas dan menyukai seni, tapi juga menyukai seni pada dirinya. Penapilan luar wanita itu sepenuhnya "tertutup" oleh kemeriahan palsu. 

Awalnya Yuda tidak tertarik, Lalita berbeda sangat jauh dengan Marja, kekasihnya, pikirnya. Tapi takdir berkata lain. Ketika Lalita tertimpa satu kejadian yang hampir mencelakakannya, tapi akhirnya terhalang oleh kesigapan Yuda. Sebagai balasannya lah, Lalita memberikan Axis Mundi pada Yuda, yang belum pernah Yuda rasakan, sekalipun dengan Marja. 

Sekaligus rentetan kejadian aneh, tidak hanya menimpa Yuda, tapi juga kekasihnya Marja dan sahabatnya Parang Jati. Lagi ketiga sahabat itu harus bergumul dengan sebuah misteri yang mau tidak mau mereka pecahkan dan cari tau kebenaran dan asalnya.  Rentetan misteri yang diterima ketiga sahabat itu akan mengantarkan mereka pada sebuah misteri antara Candi Borobudur, Sigmund Freud, Carl Gustav Jung, dan Vampir. Lalu, apa hubungannya antara misteri itu terhadap Lalita dan Sejarah Indonesia?

Seri lanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa ini mempunyai tokoh sentral yang sama, yakni; Yuda, Parang Jati dan Marja. Dan di kedua bukunya, ketiga sahabat ini memasuki dunia baru dari misteri yang ada di depan mereka. Selain itu juga, kisah ini dibumbui sejarah dan pengetahuan yang tidak alasan untuk melewati buku ini dan juga kisah segitiga sahabat itu.
Read More ...

0 comments



Perempuan yang Melukis Wajad
Various Writer


Sebuah antologi yang menarik dari para penulis ternama Indonesia. Hujan menjadi tema besar buku yang terdiri dari 11 cerita pendek. Hujan yang memiliki banyak persepsi untuk setiap orang, bisa berarti hujan sebagai berkah yang harus disyukuri oleh orang satu, atau berarti musibah untuk orang lainnya, mungkin juga berarti kebencian untuk orang yang berbeda. Tergantung apa pengalaman atau cerita di balik hujan untuk pribadi masing-masing. 

Salah satu ceritanya adalah yang menjadi judul buku ini, Perempuan yang Melukis Wajah. Kisah ini menceritakan sebuah kejadian kelam pada seorang wanita yang sebentar lagi akan menikah. Hari yang bisa dihitung dengan jari, tiba-tiba berbalik 180 derajat di hari yang hujan dan penuh dengan kesemerawutan di Ibukota. Hari di mana ia harus melupakan semua cita-citanya, bahkan wajahnya sendiri, demi kekasih jiwanya. 

Atau kisah lain yang berjudul, Humsafar. Kisah ini menjadi kisah pertama buku ini, sekaligus menjadi kisah favorit saya. seorang wanita, yang selalu terkukung dalam kesendiriannya, bahkan semakin jadi ketika orang tuanya harus meninggal dalam sebuah kecelakaan. Kesendirian yang membuatnya nyaman itu berkat usaha keluarganya yang memiliki sebuah usaha pemakaman umum dan sekaligus menjadi tempat tinggal wanita tersebut dari kecil. Sehingga ia dijauhi temannya, karena mereka pikir sang wanita menakutkan dan mempunyai hantu. Tapi itu tidak pernah merisaukan masalah itu, masalah yang ia anggap sepele, sampai di bandara internasional Dubai. Saat ia ingin kembali ke Jakarta, ia bertemu dengan seorang pria. Pria yang akhirnya membawanya keluar dari kenyamanan sendiri, pria yang berasal dari Afganistan, pria yang bekerja menjadi editor di negara asalnya, dan pria yang berhasil mengikatkan komitmen walau terkendala jarak. Pertemuan unik, sekaligus memeberitahukannya bahwa sang pria adalah Humsafarnya.

Meski terkesan ringan, buku ini tidak benar-benar ringan jika dibaca. Banyak terselip arti-arti lain di dalamnya dari kehidupan sehari-hari. Bacaan yang pas di saat hujan seperti sekarang ini, atau ingin bernostalgia dengan deru rintik hujan.
Read More ...

0 comments



Witness in Death
J.D. Robb


Tiba-tiba saya suka berburu buku karangan J.D. Robb, padahal awalnya say tidak begitu tertarik membaca buku pertama yang saya baca. Tapi setiap ketika menemukan buku J.d Robb saat huntibg buku, menjadi hal yang memuaskan. Sebenarnya, sama seperti dua buku misteri-triler yang saya baca, Sydney Sheldon dan Agatha Chritie, hanya saja, J.D Robb memberikan tokoh utama yang sama dengan kasus yang beraneka ragam.

Kali ini kasus tersebut terjadi tepat di depan mata sang Letnan Dallas, selaku pimpinan NYSPD untuk kasus pembunuhan. Letnan Eve Dallas bersama suaminya, Roarke, sedang menikmati pertunjukan teater mengenai pembunuhan. Karena sudah terbiasa mengurus pembunuhan, Eve, tidak tahan untuk tidak menganalisis kisah yang sedang ditontonnya. Tapi ketika ia sedang memeperhatikan tokoh pembunuh, ia melihat sesuatu yang tak wajar. Tokoh yang seharusnya mati palsu, tiba-tiba bersimbahkan darah tepat di depan matanya.

Seketika itu juga, Letnan Dallas dan Roarke berlari menuju pangguug. Tepat saat itu juga sang tokoh pembunuh, Areena, berteriak histeris dan pingsan, begitu melihat darah yang seharusnya tidak ada. Pembunuhan yang menyita banyak perhatian dan saksi, belum juga media yang akan mengangkat kematian aktor yang sangat berbakat, Richard Draco. Satu-satu, saksi ditanyai, aktor-aktris, crew, penonton. Eve, sadar, korban dibenci oleh keseluruhan orang yang mengenal secara pribadi maupun, untuk urusan pekerjaan. 

Pekerjaan, Eve dan timnya semakin sulit. Karena pembunuhan ini dibuat menjadi bagian dari pementasan drama oleh sang pembunuh. Belum lagi salah satu crew drama tersebut, ditemukan mati gantung diri. Tapi, Eve tidak mau menerima, kalau itu bunuh diri. Ketika ia mempelajari lagi video yang menunjukan pementasan, sang crew, Eve melihat sesuatu yang janggal yang dilihat oleh sang crew. Hanya tiga detik hal yang janggal itu muncul di muka sang crew, tapi memuat Eve terusik. 

Eve sadar ia berhadapan dengan aktor/aktris yang berbakat dan sangat mencitai pekerjaannya, mau tak mau, Eve harus ikut bersandiwara mengikuti alur sang pembunuh.

Logika pembunuhan menarik perhatian saya, hingga menghasilkan alibi untuk sang pembunuh. Kisah kali ini lebih sentimentil, karena mengembalikan lagi kesedihan lama sang Letnan. Seperti apa kasus yang ditangani dengan mengikutikan sertakan hal yang dilarang oleh polisi, emosi.
Read More ...

0 comments



Mere Matkadevi dan 123 Karakter Lainnya
Tulus Ciptadi Akib



Kemajuan jaman berdampak dengan daya kreatifitas manusia. Salah satu contohnya buku ini. Buku ini saya temukan secara tidak sengaja, pemberian dari seorang editor penerbit yang menerbitkan buku ini. Untuk refrensi saya, katanya. Begitu saya melihat konsep yg dibuat sang penulis, saya terkesan dengan ide dan latar belakang ia menulis, hingga akhirnya dibukukan. 

Jika kamu ingin membaca sebuah cerita dari berbagai sudut  atau dengan berbagai macam trik layaknya novel, bukan buku ini yg kalian cari. Tapi setidaknya buku ini memberikan banyak warna, banyak genre, di dalamnya. Buku ini menyajikan kisah yang sering secara sadar kita tahu tapi dilupakan atau tersamarkan dengan lika-liku kehidupan sehari-hari, bahkan ada juga yang jarang kita perhatikan. Cerita yang disajikan tidak lebih dari dua halaman, bahkan ada pula yg hanya kurang dari setengah halaman. 

Dan yang paling menarik perhatian saya adalah cara sang penulis memberikan judul dan membungkus cerita yang terdiri dari 123 cerita dengan cara yang menggelitik. Setiap judul diberi nama sesuai dengan toko utama yang mewakilkan kisahnya. Dan bukunya dikemas seperti buku telepon yg diawali oleh abjad namanya. Walaupun kisahnya saya sebut very short story, tapi tidak melupakan klimaks yang menjadi nyawa hingga bisa disebut sebuah cerita. 


Salah satu kisahnya mengenai sudut pandang seorang anak yang berusia empat tahun terhadap keluarga heterogen atau dari lingkungan homoseksual. Atau kisah seorang gadis berusia 27 tahun yang harus meninggalkan Abangnya yang menjadi keluarga satu-satunya untuk memasuki hidup baru. Kisah misteri, kisah cinta usia remaja, kisah cinta usia tua, kritik untuk pemerintaha, kaya, miskin, kisah cinta universal, bahkan kisah seorang anjing kampung. Warna-warni hidup dirangkum menjadi sebuah telepon yang apik oleh sang penulis. 
Read More ...

0 comments



Rojak
Fira Basuki
Uhh moment: "pergi ke hanya untuk menemui selingkuhan"


Sebarnya saya mau menunda baca buku ini dikarenakan saya belum mempunyai buku sebelumnya, Biru. Tapi, apa boleh buat rasa penasaran saya timbul setelah membaca blurbnya. Sehingga dari situ pula saya tau, Rojak mengacu pada Rujak. Makanan khas Indonesia yang berisikan buah-buahan yang diberi bumbu kcang yang gurih nan pedas. Makanan yang berisikan berbagai macam rasa dan bentuk. 

Kisah di mulai dari masa ketika sebuah kejadian sudah berlangsung. Seorang wanita yang disebut Jan sedang bertemu seorang sahabatnya, Bernice, di sebuah sel di Singapura. Sebuah permintaan yang menyayat disampaikan kepada Bernice dari Jan, sebuah buku harian bersampul coklat yang Jan mohon Bernice sampaikan kepada seorang lelaki bernama Eric Tan. 

Setelah memegang buku harian bersampul coklat itu tiba-tiba Bernice merasa tidak benar-benar mengenal sahabatnya yang sudah dikenalnya semasa duduk di bangku sekolah menengah yang juga di Singapura. Kenapa Jan bisa masuk ke penjara? Dan siapa pula lelaki bernama Eric Tan? Padahal sesungguhnya suami Jan seorang Jawa bernama Setyo, bukan Eric. Rasa penasaran itu yang akhirnya membiarkannya rasa sungkannya untuk membuka lembar demi lembar buku harian bersampul coklat itu. 

Lalu cerita berjalan mundur, sesuai waktu dan tempat yang tertulis di setiap kisah dalam buku harian bersampul coklat. Kisah seorang wanita yang memiliki seorang suami berdarah Indonesia dan dua anaknya yang harus tinggal dengan mertua wanitanya yang keturunan ningrat. Jan merasa menjadi budak di rumahnya sendiri, melayani sang Ibu mertua tanpa ada dukungan dari suaminya. Hanya permohonan dari suaminya yang berat ke Ibunya. Ketika mengadu ke Ibu kandungnya sendiri, Ma (sebutan sang Ibu) menyuruhnya untuk bersabar, terlebih pada pernikahan campuran yang pasti memiliki perbedaan. 

Tidak ada yang mengerti Jan. Jan harus melakukan sandiwara di depan kedua anaknya dan Ibu mertuanya. setyo, suaminya, tidak ada memberikan dukungan. Sampai suatu saat, Jan bertemu dengan Eric, segalanya berubah. Benar-benar mengubah arah hidup Jan. Tanpa ia sadari, kebahagiaan sesaat bukan hanya mengubah takdirnya, tapi juga keluarganya.

Alurnya yang maju mundur ke masa lalu, masa sekarang dan masa saat sang Ibu mertua bertemu dengan Bapak mertuanya sedikit membuat bingung, apalagi ditambah dengan sudut pandang yang bercampur-campur antara JAn, Bernice, ibu mertua dan Setyo, suami Jan. Tapi permaninan psikologis pada buku ini menarik untuk ditilik. Walaupun buku ini bisa dikategorikan buku yang tipis dengan isi setebal 174 halaman, tapi banyak yang bisa diambil dari kisahnya.

Read More ...

0 comments





Catching Fire - Tersulut
Suzanne Collins
Uhh moment: Adegan di mana Katniss mengenakan baju buatan perancangnya sebagai ejekan untuk kapitol.



The second is better than the first!! Seenggaknya itu menurut saya. Saat saya membaca seri pertama, saya seperti membaca buku teenlit dengan kemasan baru. Apalagi dengan endingnya yang anti klimaks. Tetapi seri kedua berbeda. Suzanne Collins berhasil memutarbalik itu semua!

Kisah dimulai dengan kehidupan pemenang ke 75 Hunger Games, Katniss Everdeen dan Peeta Melark. Setelah berhasil mempermainkan pemenrintahan capitol dengan kemenangan dua orang pemenang, mereka harus menjalankan serangkaian kunjungan pemenang ke distrik-distrik, capitol, hingga kembali ke distrik mereka sebagai puncak arak-arakan pemenang, sebelum akhirnya mereka akan menjadi mentor di acara quarter quell. Quarter quell merupakan acara hunger games per 25 tahun sekali dengan games yang dirancang lebih menantang dan bahkan sampai mengundang dua kali lipat peserta.

Tetapi hidup Katniss yang membosankan sebagai pemenang tidak akan lagi bisa menyenangkan dan aman semenjak kejadian buah berry yang ia lakukan saat final hunger games untuk memenangkan ia dan Peeta. Ternyata tindakannya itu menyulut api pemberontakan di distrik-distrik lain, dimulai di distrik sebelas ketika ia mengunjungi distrik tersebut sebagai pemenang hunger games! Apa lagi pemberontakan itu semakin nyata dengan kedatangan langsung presiden Snow ke rumahnya yang baru di desa pemenang di distrik 12, presiden Snow mengancam Katniss untuk melakukan skenario capitol agar meredam api pemberontakan yg telah tersulut.Mereka harus memanikan lagi sandiwara dua pasangan merana yang sedang jatuh cinta.

Tugas yang seharusnya mudah karena sudah ia dan Peeta lakukan selama di arena Hunger Games, tiba-tiba mejadi sulit. Usaha mereka untuk memenuhi rencana capitol selama perjalanan pemenang dinyatakan gagal dengan timbulnya pemberontakan baru di distrik 8. Timbulnya pemberontakan-pemberontakan tersebut menyadarkan Katniss akan kebusukan capitol dan permainannya yang telah membuatnya menjadi boneka mereka. Dengan kenyataan itu, Katniss berusaha membalikan keadaan dan ikut mejungkirkan capitol, tetapi rencana tersebut tidak berlangsung lama hingga capitol mengeluarkan sejatanya, yaitu memasukan lagi para pemenang yang masih ada di setiap distriknya dalam quarter quell, yang otomatis mengharuskan Katniss (sebagai satu-satunya pemenang wanita di distrik 12)menjadi peserta lagi. Katniss sadar ini lah skenario selanjutnya capitol untuk melenyapkannya di depan para pemberontak. Harapan kembali digoyahkan. Tetapi satu-satunya hal yang capitol tidak tahu adalah sang mockingjay tidak akan pernah kehilangan suaranya untuk bernyanyi.

Seri kedua ini benar-benar tidak membiarkan orang yang membacanya duduk tenang sebelum mereka menyelasaikannya, setidaknya menurut saya. Dengan intrik-intrik yang ditutupi dari Katniss hingga akhir cerita membuat saya sebagai pembaca menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya pada sang Mockingjay atau Katnis yang sudah menjadi lambang pemberontakan itu sendiri. Belum lagi Collins yang sengaja membuat bigung pambaca dengan perasaan Katniss terhadap dua pria yang memiliki karakter bertolak belakang tetapi sama-Sama mencintainya mati-matian dan pastinya sama-sama memiliki ketampanan dan kelebihannya masing-masing. 

Dengan pasangan dari distrik 12 Katniss dan Peeta sepertinya memperkuat kisah ini. Peeta yang lebih lembut, penyayang, penuh perhitungan dan mempunyai kekuatan disetiap kata-katanya dengan Katnis yang tangguh dan spontan membuat kisah ini semakin menarik, perbedaan antara Peeta dan Katniss lah yang membuat medan daya mereka jadi tarik-menarik. Selain kisah percintaan segitiga, kisah fantasi seri Hunger Games memiliki sisi nyatanya pula yang menarik perhatian saya. Adanya Hunger Games, pertahanan hidup di arena, pemerintahan Capitol dan serang-serangan yang dirancang oleh juri Hunger Games saat diarena, mengingatkan saya akan kehidupan ini. Dimana manusia akan selalu menghadapi apapun tanpa tau apa yang menunggu di depan sana. Dan juga kehebohan, ketidakpekaan dan juga mementingkan teknologi serta tidak akan terusik apabila kepenuhannya tidak terpenuhi rakyat capitol, sepertinya menjadi kritik dari penulis terhadap masyarakat modern sekarang yang sudah seperti robot dibandingkan manusia. Jadi selain menghibur dengan karya fiksi-fantasinya, Catching fire juga bisa membawa kita dunia dari segi buku faksi-fantasi ini dan juga lebih semangat membacanya dibanding seri pertamanya.
Read More ...

0 comments



Judul : Hanya Salju dan Pisau Batu-- 
Penulis : Pidi Baiq dan Happy Salma-- 
Rate : Menyenangkan sekaligus menyebalkan-- 
Uuh moment : "Alienasi"

Ini adalah buku kolaboratif. Ditulis oleh Pidi Baiq dan Happy Salma. Ah, kenapa saya malah menuliskan Pidi Baiq lebih dulu dibanding Happy Salma, berbeda dengan yang dituliskan di buku. Tak jelas apakah buku ini fiksi atau bukan. Tulisannya bercampur-campur antara curhatan, cerita fiksi pendek, cerita fakta berkedok fiksi dan gagasan serta opini yang bahkan terkadang kritis sekaligus filosofis.

Buku ini menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena bikin penasaran. Apakah gerangan yang akan menjadi tulisan balasan untuk tulisan sebelumya. Pertanyaan itu jadi bahan bakar yang membuat saya terus melanjutkan buku sampai habis.

Bentuk tulisan yang saling berbalas ini juga membuat saya teringat dengan budaya berkirim surat dengan sahabat pena yang belum pernah bertatap muka. Dan ternyata benar, Pidi Baiq dan Happy Salma saat menulis buku ini belum pernah bertemu sama sekali (Tapi dari situ timbul pertanyaan, apa yang membuat mereka berkolaborasi membuat buku. Hmm, mungkin karena Happy Salma selebritis dan dia membaca buku Pidi Baiq)

Aksi berbalas cerita ini mengingatkan saya pada kisah Mary dan Max di film Mary and Max, dua sahabat pena beda umur dan dipisahkan jarak yang begitu jauh. Mary di Australia, Max di Amerika. Mereka begitu intim bertukar kisah dan pemikiran, bahkan hingga bertahun-tahun. 

Berdasarkan pengalaman pribadi dalam berkirim kartu pos pun, saya juga merasakan serunya bertukar cerita dengan orang asing. Mungkin karena itu juga buku ini menyenangkan bagi saya. Entah gimana, saya malah bisa mencurahkan isi hati kepada orang yang saya tak kenal itu. Dan begitu jugalah yang terjadi pada buku ini, Happy Salma terasa begitu mantap menceritakan kejadian-kejadian di hidupnya. Buku ini pun tak jadi sepenuhnya buku fiksi, karena Happy bercerita seperti dia menulis diari. Dia bercerita tentang sosok Ayahnya yang ia cinta, tentang pertunjukan teater yang ia hadiri, tentang masa kecilya, juga tentang kegilasahannya atas gaji teman kerjanya yang sangat kecil.

Pidi Baiq, selalu merespon cerita-cerita Happy Salma. Entah dengan banyolan ngawur, uraian filosofis dan logis tentang apa yang dipersoalkan di cerita Happy Salma; dengan cerita fiksi yang satu tema, atau mengurai gagasan-gagasan kritis. Ya, di buku ini, Pidi Baiq sering sekali mengeluarkan sisi kritisnya. Contohnya, Pidi Baiq bahkan, dalam tulisan berjudul Alienasi, mengutip Karl Marx untuk merespon cerita Happy Salma tentang penghasilan seorang seniman. 

Sayangnya, dan juga curangnya, tulisan-tulisan Pidi Baiq sangat jarang direspon oleh Happy Salma. Hmm, apa memang kolaborasi ini memang dibuat satu arah? Ah, oke, catat ini sebagai hal yang menyebalkan dari buku ini.

Menarik untuk dicermati juga kehidupan Happy Salma ini. Tuturan ceritanya mencerminkan bagaimanakah gaya hidup masyarakat kelas menengah yang suka sastra. Dia berpenghasilan tinggi, bergaul dengan sosialita, ikut arisan rutin bersama ibu-ibu sekelasnya, menaruh atensi lebih pada detil, termasuk pada ketimpangan yang terjadi di lingkungannya, ia iba pada rekan kerjanya yang kerjanya berat tapi gajinya sangat kecil. Ia sadar gajinya berkali-kali lipat lebih besar daripadanya, ia juga sadar kalau rasa ibanya besar. Ia berbelas kasih. Tapi sayang, tanpa aksi. Ia hanya bisa diam, dan tak bekutik sedikitpun. Ia hanya bisa iba. Ah, persis sekali dengan kelas menengah lainnya yang berisik mengeluh di Twitter.


Pidi dan Happy sama-sama kelas menengah. Tapi mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Pidi gemar memberi uang kepada orang asing secara spontan. Ia juga akrab bergaul dengan tetangganya. Dan Pidi hidup apa adanya, sederhana dan otentik, persis seperti gaya tulisannya. Tidak berbunga-bunga mencoba nyastra seperti  gaya tulisan Happy Salma. 
Read More ...

0 comments


Judul Buku : My Life as Film Director
Penuli : Haqi Achmad

My Life as Film Director (ditulis oleh Haqi Achmad), adalah sebuah buku yang membahas pengalaman empat sutradara muda Indonesia dalam perjalanan karir mereka sebagai sutradara film. Nama-nama yang sudah tidak asing di telinga kalian (khususnya bagi kalian yang movie freaks) seperti Hanung Bramantyo (Sutradara Ayat-Ayat Cinta) dan Ifa Isfansyah (Sutradara Sang Penari) berbagi pengalaman mereka dari awal mengenal film sampai sekarang saat mereka telah menghasilkan film-film yang tidak hanya meraup banyak untung, tetapi juga berkualitas sebagai sebuah karya seni.

Sementara Hanung Bramantyo dan Ifa Isfansyah pernah bersekolah film, dua sutradara sisanya, Joko Anwar (Sutradara Janji Joni) dan Sammaria Simanjuntak (sutradara Demi Ucok), tidak pernah mendapatkan pendidikan film secara formal sama sekali. Buku inipun memberikan lebih dari satu perspektif tentang cara seseorang memulai berkarir sebagai sutradara film.

Berisi tujuh bab yang terdiri dari (dinomor secara mundur layaknya countdown sebelum sebuah film mulai):
7. Kenalan dengan Dunia Film
6. Tugas Sutradara
5. Jalur Karir Menjadi Sutradara
4. Pro Kontra Keluarga
3. Titik Awal
2. Film Pertama… Kedua… dan Seterusnya
1. Detil Penting Jadi Sutradara
buku ini disusun sesuai dengan alur para sutradara memulai karirnya di dunia film sampai berprestasi seperti sekarang. Dan isi buku tidak terikat dengan langkah-langkah agar seseorang menjadi sutradara yang baku.

Penyajian yang colorful dan kutipan-kutipan para sutradara film terkenal dunia seperti Steven Spielberg, Quentin Tarrantino, dan Stanley Kubrick, menambah kemenarikan buku ini untuk disimak.Sayangnya, buku ini kurang membagi rata pengalaman setiap sutradaranya. Seperti ada satu bab yang isinya lebih didominasi dengan pengalamannya Ifa Isfansyah, sementara sutradara yang lain porsinya kurang di bab tersebut.

 Terlepas dari kekurangannya, My Life as Film Director merupakan sebuah buku yang sangat worth it untuk dibaca oleh kalian yang khususnya suka dengan dunia film. Menarik sekali menyimak bagaimana Joko Anwar sudah menyelesaikan skrip Janji Joni (2005) pada tahun 1996, Hanung Bramantyo yang berusaha menjawab pertanyaan ayahnya soal kesanggupan Hanung membuat film yang komersil, Ifa Isfansyah yang mengawali karir dengan membuat beberapa film pendek yang memenangi festival, dan Sammaria Simanjuntak yang membuat film Cin(T)a “sendiri”.

oleh: http://melihatulang.blogspot.com/

Read More ...

0 comments



Conspiracy in Death
J.D. Robb
Uhh moment: "ketika Letnan Dallas memasuki ruang bedah yang sekaligus ruang pembunuhnya berdiam."



Genre triler sering dikaitkan dengan kematian dan unsur tersebut lah yang menjadi daya tarik dan misteri di sebuah novel bergenre ini. Sepertiya hal tersebut disadari oleh J.D. Robb, novel triler karyanya diberikan kata "death" di setiap judulnya. Seperti buku yang saya baca ini, Conspiracy in Death. Menariknya, selain memasukan unsur "death" di setiap judulnya, novel-novel tersebut tidak mengganti tokoh-tokoh utamanya alias mempunyai tokoh yang tetap, yakni; Letnan Eve Dallas yang menangi kasus-kasus pembunuhan di dapertemennya. Dibantu oleh officer Peabody, ia menangani segala macam kasus pembunuhan yang dikira remeh sampai yang melibatkan kelompok adikuasa. Tidak ketinggalan, Letnan Eve Dallas memiliki seorang sumai yang berbanding terbalik dengan kehidupannya, Roarke, dan seorang pelayan di rumahnya, Summerset. Serta beberapa tokoh pendukung lainnya.

Dikisahnya kali ini, Letnan Eve Dallas berhadapan dengan dokter gila pencambut nyawa orang-orang yang disebut sebagai sampah masyarakat, pekerja seks komersial, gelandangan, dan orang yang bahkan tidak waras. Berawal dari kasus pembunuhan pertama yang merenggut jantung seorang gelandangan bernama Snooks. Lalu, akhirnya Letnan Eve Dallas menemukan kasus-kasus yang serupa dan ke semuanya kasus tersebut ditutup tanpa adanya penyelesaian. Pembunuhan terhadap kaum minoritas ini sudah menarik perhatian sang Letnan dari awal dan semakin meneliti kasus tersebut semakin sang Letnan merasa harus memberikan keadilan bagi mereka. 

Saat penyidikan kasus ini berjalan, korban-korban baru mulai berjatuhan. Motif pembunuhannya pun serupa satu dengan yang lainnya dan menimbulkan pertanyaan bagi semua. Seluruh mayat ditemukan dengan menghilangnya organ-organ vital mereka, seperti jantung, ginjal, dan hati. Yang mengherankan organ-organ tersebut sudah dikategorikan rusak parah, sehingga tidak mungkin untuk diperdagangkan di pasar organ. Dan yang semakin menimbulkan pertanyaan, sang pelaku meninggalkan jejak di setiap "pekerjaannya", yaitu sebuah hasil bedah oleh tangan orang yang sangat profesional, bahkan cenderung sangat ahli dan rapih.

Di sisi lain, ketika segala upaya penyidikan kasus sedang berjalan, Letnan Dallas terpaksa harus menerima tangan-tangan yang berusaha keras mengeluarkannya dari kasus ini, bahkan mengeluarkannya dari pekerjaannya.

Membaca novel-novel karya Robb cukup menarik buat saya. Pasalnya setiap saya membaca buku dengan judul yang berbeda yang saya temui adalah tokoh yang sama. Walaupun tidak mengurut, saya tetap menikmati membacanya. Dan karena sudah membaca judul lain sebelumnya, saya merasa sudah mengenal dengan para tokohnya. Jadi semacam sudah terbentuk ikatan dengan pembaca, apabila tokohnya sama. Seperti membaca buku seri, tetapi kita bisa mengacak seri mana saja yang mau dibaca tanpa ada yang terlewat.
Read More ...

0 comments



Doa Ibu
Sekar Ayu Asmara
Rate: "Mencekam sanu bari"
Uhh moment: "Madrim menatap klinik tempatnya melakukan dosa bersama si Bisu. Tiba-tiba ia meilhat si Bisu, tapi nyatanya Ijen yang seperti pinang dibelah dua dengan si Bisu."


Ini kedua kalinya saya baca buku karya Sekar Ayu Asmara. Dan keduanya, saya mau memberikan genre yang saya tentukan sendiri, Misteri-triler! Mungkin pada buku Pintu Terlarang lebih terasa psychological-thriler, tetapi di buku ini saya merasakan sekali unsur misteri-triler di dalamnya. Walaupun kesan sadis nggak akan kita temui, tapi kesan mendebar-debarnya tetap ada, sangat terasa. 

Kisah ini berpusat pada dua tokoh central, yakni Ijen dan Madrim. Ijen adalah seorang pemuda sekitar 25 tahun yang merupakan seorang pelukis dan tinggal bersama keempat temannya yang juga pelukis. Sedangkan Madrim adalah seorang istri orang ternama dan terpandang, memiliki satu anak yang sedang menapaki karirnya. Awalnya kedua tokoh central ini sama-sama memiliki kehidupan yang sempurna dan bahagia. Tetapi setelah masing-masing mengalami satu kejadian, pelan-pelan hidup mereka yang sebenarnya mulai terungkap dan meluluhlantahkan fakta kehidupan mereka. 

Dimulai dengan pernikahan sahabat Ijen yang bernama Khaled dengan Dewanti. Ketika prosesi resepsi belum juga rampung, tiba-tiba lampu ruangan padam dan saat itu istri sahabatnya Khaled yang baru saja dinikahinya tiba-tiba menghilang di depan ratusan pasang mata. Lalu di sisi Madrim, ketika semua berjalan dalam kendalinya, tiba-tiba suaminya yang ia nikahi selama 20 tahun pergi meninggalkannya untuk selamanya. Di hari pemakaman suaminya, tiba-tiba pula datang seorang wanita dan seorang anak yang menyebut suaminya dengan sebutan "Ayah".  Kejadian yang tidak pernah Madrim sangka selama usia pernikahan mereka.

Ijen mencari kehilangan Dewanti yang berakibat bunuh diri pada sahabatnya, Khaled. Dari pencariannya itu justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan serta misteri-misteri baru baginya. Bukan menghasilkan, justru semakin kehilangan, terlebih satu-persatu sahabatnya ikut raib. Sedangkan, Madrim sebaliknya. Semakin ia mencari kebenaran yang hakiki dari kebohongan suaminya selama sepuluh tahun, ia semakin menemukan makna yang sebenarnya dibalik itu semua, dibalik kematian suaminya dan dibalik kesedihan putri semata wayangnya, Sinta. Yang paling menibulkan misteri di antara semuanya, hanya Ijen yang bisa mendengar suara "ruh" yang ia tidak tau datang dari manam sampai suatu kejadian menimpanya dan menjelaskan semuanya.

Alur dalam buku ini dijaga banget oleh penulisnya, dari awal sampai akhir ketegangan terus diberikan intensitas yang semakin menanjak. Banyak diberikan "bumbu" misteri yang akan dipertanyakan pembaca. Ketika intensitas semakin tinggi, kita akan sulit melepas kisahnya. Mungkin awalnya, kita akan terkesan membaca kisah horor, saat membaca dipertengahan. Tapi justru itu salah satu "bumbu" misteri yang bersatu padu dengan intrik triler di dalamnya, sehingga menghasilka ketegangan dan pertanyaan, tanpa adanya darah dan pembunuhan.

Penulis juga sangat piawai menyimpan jawaban. Setiap pertanyaan kecil atau selintaspun, ia tidak akan memanjakan pembaca dengan jawaban. Ia membebaskan pembaca dengan imajinasi dan pemikirannya, sebelum akhirnya ia berikan jawabannya. Menarik. Selain itu, dari kedua bukunya, terlihat juga ciri khas penulis. Sekar Ayu Asmara sering membahas jurnalis, humanis, kemewahan, simple yang menunjukan keanggunan, rahim wanita yang merupakan tanggung jawab wanita sebagai pemiliknya, seniman, dan kehidupan dalam dunia imajinasi atau angan-angan. Kesimpulannya, buku ini patut dibaca, menghibur dan menantang pembaca sekaligus. Dan tentunya membantu mengeluarkan gaung karya sastra Indonesia yang nggak kalah keren dengan penulis luar manapun.
Read More ...

0 comments


Judul            : 100 Kata. Kumpulan Cerita 100 Kata 
Pengarang    : Various 
Rate             : Ending Bikin Greget
Uhh Momen : "Tick Tock Tick Tock" Menunggu Ibu Pulang

Dalam pembuatan sebuah cerita, ternyata nggak melulu harus dimulai dengan modal ide tema, melainkan juga teknik pembuatannya. Itulah yang ditawarkan oleh buku Kumpulan Cerita 100 Kata ini. 

Seperti judulnya, buku kecil terbitan Antipasti ini, mengajak para penulis untuk bereksperimen, menuliskan satu cerita yang hanya terdiri dari 100 kata. Nggak kurang nggak lebih. Jelas, ini sangatlah menarik, apapun tema cerita, ia tetap harus menimbulkan kesan walau dalam ruang yang ringkas. Hasilnya, hampir seluruh cerita langsung menampilkan premisnya saja, tanpa basa-basi, langsung menuju konflik. 

Read More ...

0 comments



Faust
Johann Wolfgang von Goethe (seri komik)
Uhh moment: "penggambaran Mephis yang datang sebagai anjing, bukan sebagai suara-suara aneh di perpustakaan Faust."



Pertama kali kenal dengan karya terkenal dari Goethe ini, ketika saya masih kuliah. Saya langsung mengenal dua format penulisan sastranya, novel dan dramanya. Antara dua format itu saja, sudah ada perbedaan pastinya, terlebih dari segi dialognya. Tapi ketika saya menemukan buku ini format lain dari Faust, saya langsung sangat tertarik. Bagaimana tidak, Faust yang dikenal sebagai salah satu karya sastra yang cukup "berbobot" ini dibuat versi komiknya. Tanpa pikir panjang, saya ambil dan baca komik ini.

Read More ...

0 comments




Judul : SPBU Dongeng Sebelum Bangun 
Pengarang : Pidi Baiq 
Rate : Bikin Niat Tidur Jadi Batal Karena Jadi Seger Ketawa. 
Uhh Moment : Ketika Alien Dip Dip Pop Melahap Baliho Bergambar Musuhnya. Hap! 

Saya kaget mengetahui kalau Pidi Baiq ternyata menerbitkan komik juga. Betapa saya ketinggalan info. Padahal saya ngaku fans beratnya Pidi Baiq, walaupun bobot badan saya hanya 62 kg. saya bukan fans yang berat. Menarik pasti kalau Pidi yang emang alur pikiran dan cerita-cerita yang dibuatnya itu udah komik banget, bikin komik. Jadinya komik kuadrat. 

Tapi ternyata Pidi Baiq tidak menggambar komiknya, melainkan ia dibantu oleh Rizki Goni. Pidi hanya menulis ceritanya. Tak apa. Tak menurunkan harapan saya. Buku ini tetap menarik sebelum saya baca. 

Jangan harap bisa mengerti isi buku hanya dari judulnya. Coba saja. Apa yang bisa kita dapat dari judul S.P.B.U Dongeng Sebelum Tidur? Ada yang sama seperti saya, mengira kalau Dongeng SEbelum Tidur adalah kepanjangan dari S.P.B.U?  kalau ada, berarti kita sama-sama terkecoh. 
Adalah benar bahwa buku ini berisi dongeng. Kalau kita baca ceritanya, kita pasti akrab. Pertama, tentang si siput yang adu lari dengan si kelinci. Kedua, tentang si kancil yang mengkibuli buaya-buaya di sungai sehingga ia bisa menyebrang. Nah, kalau biasanya kedua dongen selalu mengisahkan kebaikan dan disusupi pesan moral, sehingga baik untuk dibacakan sebelum tidur, di tangan Pidi dongeng tersebut jadi keluar jalurnya. 

Pidi memberikan ending baru pada dongeng lama itu. Si Siput tentu jadi tidak menang dari kelinci yang larinya cepat. Dia kalah sekalah-kalahnya, tidak seperti dongeng aslinya yang bercerita kalau si kelinci akan sombong di pertandingan dan tidur sehingga Si Siput bisa menang. Di akhir cerita, Pidi memberikan petuah “Jangan sombong karena sombong itu sangat menyakitkan orang yang belum memilki kesempatan untuk sombong.” 

Begitu juga dengan dongeng Si Kancil. Ia tidak jadi bisa menipu para buaya-buaya yang akan memangsanya itu. Karena bagi Pidi, masa iya sudah sekian puluh tahun dan sekian generasi, buaya masih saja ketipu sama akal bulus kancil. Saatnya emansipasi buaya! 

Hanya ada tiga dongeng dalam buku tipis ini. Dua di antaranya sudah saya bocorin ceritanya. Harus jugakah cerita terakhir ini? Baiklah. Sedikit saja. Yang ketiga ini kayaknya belum ada dongeng sebelumnya. Pidi mereka ceritanya sendiri. Bercerita tentang kedatangan alien besar menyerang bumi. Hingga kemudian ada seorang pahlawan datang menyelematkan. Di cerita ketiga inilah kita bakal tahu kenapa judul buku ini adalah S.P.B.U. 

Saya selalu suka karya-karya Pidi Baiq. Di dalam kesederhanaan, kekanakak-kanakan dan kejenakaan ceritanya, Pidi tetaplah Pidi, yang pernah kuliah Filsafat di Amsterdam dan pernah jadi Dekan di kampus ITB. Semua kebesarannya itu, sedikit-sedikit meninggalkan jejak juga di komik satu ini. 

Soal gambar. Saya tidak tahu persis cara menilainya. Tapi saya suka dengan wujud-wujud karakter yang ada di komik. Di dongeng ketika apalagi, pengadeganannya pas. Situasi perkotaan yang jadi set cerita juga keren. Suatu saat saya pengin menjiplak beberapa gambarnya. 

Buku ini seru untuk dibaca, apalagi kita hanya butuh paling lama setengah jam untuk melahapnya. 

Read More ...

0 comments

Judul : In My Room 
Pengarang         : Jerry Aurum
Rate         : "Memicu Kreatifitas...dan Kenarsisan"
Uhh Moment : “Foto Davy Linggar yang buram.”

Bagi saya, kesuksesan sebuah fotografi potret itu adalah ketika ia bisa merepresentasikan secara utuh (atau maksimal) citra diri dari seorang individu. Dalam foto, ia bisa terlihat benar-benar menjadi dirinya sendiri. Lepas. Walau pun diatur sebagaimanapun oleh si fotografer, si subjek dalam foto potrait tetap bisa merasakan bahwa dirinya ada di situ. Di dalam foto. Subjek bukan menjadi model yang harus merepresentasikan suatu tokoh atau subjek rekaan. 

Dalam seri foto potrait ini, Jerry Aurum mencoba mencari-cari kedirian seseorang itu langsung ke kamar pribadinya. Salah satu tempat utama di dunia ini yang memungkinkan seseorang benar-benar menjadi dirinya. Mengapa? Karena kamar pribadi adalah kuasanya. Ia yang paling berkuasa di situ. Privat. 

Jerry Aurum mengajak lebih dari 100 orang ternama dari berbagai profesi untuk dibuatkan foto potrait di kamarnya masing-masing. Satu persatu mereka didatangi Jerry Aurum bersama timnya. Ringgo Agus, difoto dengan posenya yang nyeleneh dan muda. Ia terlihat seperti baru bangun tidur dan memulai ritualnya, yaitu berasik-asikan dengan apa yang ada di dalam celananya. Lalu ada Dian Sastro yang difoto bersama anjing kesayangannya, Darwis Triadi—rekan sesama fotografer bagi Jerry—difoto dengan tampilannya yang begitu santai di kamar tidurnya. 

Yang menarik bagi saya adalah foto potrait Davy Linggar. Untuk yang belum tahu, Davy adalah seorang fotografer fine art. Foto-fotonya mungkin lebih sering tampil di galeri-galeri seni dibanding di majalah atau billboard. Nah, Jerry memotret Davy dengan sangat baik… dan keren. Ia bisa langsung membayangkan betapa misterius, abstrak dan nyeni-nya sosok Davy. Ya, dalam buku tersebut, Davy menjadi satu-satunya yang difoto tanpa mukanya terlihat jelas. Ia difoto sedang berada di balik kaca buram yang membuat muka dan separuh badannya hanya membayang, kabur. Dalam ketidakjelasannya itu, sosok Davy jadi begitu kuat. 

Dengan begitu, Jerry seolah mengabuli seluruh hasrat kita sebagai pemirsa. Bukankah kita selalu ingin tahu seperti apakah seorang public figure jika sedang berada di ruang privatnya. Bukan berada di ‘panggung’. Ketika melihat foto-foto di buku ini, kita juga tidak hanya melihat raut muka, pose dan pakaian yang dipakai si subjek saja, melainkan juga segala yang ada di kamarnya yang terpotret. Dalam foto Jerry, dekorasi kamar, kerapihan seprei kasur, benda-benda yang ada di kamar hingga warna cat temboknya menjadi elemen-elemen penanda identitas si subjek yang tak bisa dipisahkan. 

Proyek foto ini diselesaikan Jerry dalam kurun dua tahun. Menarik. Ia tidak terburu-buru. Artinya, konsep fotonya ini bukan karbitan. Seaneh apapun pose Dr Boyke bagi saya, ia tetap dibuat dengan ketelitian dan konsep yang kuat. 

Buku ini terbit 2009, sementara saya baru memilikinya tahun ini, 2014. Ada jeda lima tahun. Ini menjadi pengalaman menarik. Karena sejak 2009, orang-orang yang difoto Jerry di buku ini sudah memiliki cerita barunya. Melihat buku ini akan penuh “Astaga si dia masih...”. Ada foto Titi Dj bersama si gitaris Rif yang kini sudah menjadi mantan suaminya. Ada juga foto Dewi Lestari dan Reza Gunawan, mereka di foto sendiri-sendiri dan penempatan di buku pun terpisah banyak halaman. Dewi di foto sedang asik mengetik di atas kasurnya, Reza di foto sedang meditasi. Tanpa disangka mungkin, tak lama setelah foto itu dibuat, keduanya menikah. 

Satu hal lagi yang menarik bagi saya, yaitu dua artikel pengantar yang ada di buku ini. Keduanya ditulis oleh penulis fotografi senior. Oscar Motuloh menulis artikel pengantar yang isinya lebih banyak memuji dan Firman Ichsan menulis artikel yang sedikit mengkritik, menurutnya dalam melaksanakan proyek ini Jerry berhadapan dengan sebuah kebiasaan baru. Jika pada sesi foto komersil, Jerry punya kuasa untuk mengatur model, di foto-foto potret ini dia harus berhadapan dengan keinginan subjek atas citra dirinya dalam foto. Jerry harus bisa menyeimbangkan antara ego pribadinya dengan ego si subjek foto. 

Bagaimana pun saya suka kedua tulisannya. Dan keduanya membuat saya sedikit gelisah. Betapa apapun foto yang dipamerkan, entah itu dalam bentuk buku atau pameran, pasti hanya Oscar Motuloh atau Firman Ichsan yang menulis. Belum ada penerusnya. Selain itu, gaya penulisan mereka yang sedikit ‘berat’ menurut saya jomplang dengan bukunya yang pop. 

Read More ...

0 comments



Siwon Six
Various Writer
Rate: "Pop Asik"
Uhh Moment: "Cipit rela membunuh, karena luka masa lalu"



Sesuai judul buku ini, kisah-kisah yang diceritakan mengenai enam orang yang memiliki wajah seperti Siwon - Super Jenior, Boyband asal Korea Selatan yang banyak digandrungi. Karena buku ini memiliki enam kisah dari enam orang berbeda, jadi lah buku ini disebut "omnibook". Kisah enam ini dibagi ke dalam enam judul yang berbeda, yaitu: The Doppelganger, Jovan Grace, Tokki, Pause, Satu Hari di Kuta, dan Roti Gyeongju. 
Kisah ini dimulai dengan prolog/pengantar yang menceritakan seorang Siwon yang sedang resah dan gelisah dengan sebuah mitos, bahwa seseorang  memiliki enam muka yang mirip di muka bumi ini. Lalu, bergulir lah satu-persatu ceritanya. Ada seorang anak yang dipisahkan dengan Ayahnya selama berpuluh tahun dan berkahir di sebuah konser Super Junior. Atau kisah seorang penjahat yang gagal menjalankan misi dan berakhir dikerumuni oleh gadis-gadis ABG. Sampai kisah seorang supir yang digila-gilai karena wajahnya yang mirip Siwon, tapi hal itu tidak berpengaruh terhadap nasibnya.

Read More ...

0 comments




Pintu Terlarang
Sekar Ayu Asmara
Rate: "Asik dibawa Kamar Mandi"
Uhh Moment: "Saat Gambir memasuki janin Arjasa ke dalam perut Talyda"

Sebelum kita memperhatikan judulnya, mungkin tampilannya dirasa kurang menarik minat  untuk mendekat lalu meilhat sinopsis di baliknya. Tapi, hati-hati, cover bisa menjebak. Itu tugasnya. Karena manusia punya macam-macam persepsi. Di situ lah fungsi sinopsis berguna. Begitu yang saya rasa pada buku ini, Pintu Terlarang. Ya, judul yang sama dengan film karya Joko Anwar.

Seperti biasa, apabila sebuah buku yang difilmkan, pasti selalu ada komentar yang keluar. Paling tidak langsung memutuskan versi mana yang disuka, biasanya versi buku lah yang menang. Karena orang sudah terlanjur membacanya dan punya perspektif masing-masing terhadap ceritanya. Tapi Tidak begitu dengan Pintu Terlarang. Keduanya memiliki kekuatan dan kemenarikannya masing-masing. Dan perbedaan mencolok, ada di turning point endingnya.

Kisahnya masih sama, menceritakan seorang pematung sukses bernama Gambir. Gambir spesialis pematung Ibu hamil, banyak yang mengatakan patungnya sangat hidup. Di situ lah kunci kesuksesan karirnya. Tetapi tanpa istrinya, ide itu takan pernah muncul. Talyda yang menjadi inspirasi dan menemukan kunci menaikan karir Gambir. Pasangan ini dapat membuat orang yang meilhatnya iri, dengan fisik sama-sama unggul, karir pasangan ini juga sama-sama cemerlang. Belum lagi rumah tangga mereka terlihat sangat harmonis dan saling mencintai. Ada sebuah pernyataan yang selalu diungkapkan Gambir untuk menggambarkan kebahagiaannya mempunyai Talyda. Terlalu sering ia keluarkan, yang kemudian akan terkuak maksud dari kata-kata itu.

Gambir memiliki keluarga kecil, seperti Ibu yang bernama Menik Sasongko dan dua adik laki-laki dan perempuan, Damar dan Menur. Keluarga kecil ini juga terlihat bahagia, apalagi kebiasaan mereka selalu kumpul bersama di akhir pekan. Gambir juga memiliki dua sahabat, Rio dan Dandung yang selalu mendukung karir mematungnya. Tapi lambat laun, makin terlihat hal-hal yang janggal diantara kehidupan Gambir. Awalnya ia tidak memikirkannya, tetapi sebuah tabir langsung terkuak, tanpa pemberitahuan, tanpa perlahan. Sebuah tambir yang mengantarkannya pada kenyataan yang pahit.

Walaupun cerita dan alurnya tidak terlalu berbeda antara film dan bukunya, plot-plot yang ada di sudut pandang buku ini tidak bisa dilewatkan. Membaca akan tetap terasa asik, dari menontonnya. Misteri dan trillernya pun juga terasa, tetapi seperti yang saya katakan di atas, ada turning point di buku ini yang sangat berbeda dengan versi filmnya. Dan mempunyai keunikannya masing-masing. Tidak ada yang perlu dikritisi itu kembali lagi ke perspektif pembaca untuk memilih dan menilai.

Read More ...

0 comments





Angels&Demons
Dan Brown
Rate: *Susah Ditinggal*
Uhh Moment: “Ketika Robert Langdon harus memilih pergi dengan anti-materi dengan menggunakan helikopter setinggi ia bisa.”



Perlu diketahui,  kisahnya Dan Brown dalam Seri Robert Langdon, selalu diawali dengan sebuah fakta yang menginspirasi isi buku. Prolog yang menampilkan kisah orang terkenal dan hebat yang dibunuh secara bengis, lalu dilanjutkan ke bagian pertama yang diawali dengan Robert Langdon yang berada dalam sebuah buah kamar dan terbangun dalam tidurnya. Jujur saja, sejauh ingatan, saya baru membaca kisah misteri-triler yang memaparkan fakta sebelumnya.

Kisahnya yang pertama, Langdon mendatangi tanah suci umat Kristen, Vatikan. Dengan ditemani wanita cantik, ekstra jenius, berani dan berkharisma, Vittoria Vetra, Langdon memecahkan misteri yang diantarkan langsung ke rumah mewahnnya oleh direktur tertinggi CERN, Maximilian Kohler. Misteri dari sebuah mayat yang terbunuh dengan cap persaudaraan kuno tertua di dunia di dadanya, Iluminati. Lambang kelompok persaudaraannlah yang membawa Langdon ke pusat CERN di Swiss. Lalu di sana ia menemukan fakta lain bahwa kematian Ilmuan John Vetra atau ayah dari Vittoria Vetra meninggalkan hasil kerjanya yang bisa menjadi senjata pemusnah massal. 
Dan fakta paling mengejutkan adalah hasil kerja yang berisi cairan anti-materi yang merupakan lawan dari materi itu sendiri berada dengan tenang di jantung kota Vatikan, Roma. Pencurian dan pembunuhan itu merupakan suatu kesatuan yang menjelaskan sesuatu, Iluminatai semenjak berdiri merupakan musuh terbesar Vatikan. Vatikan sendiri belum menyadari keberadaan tabung anti-materi tersebut, karena kepadatnya dalam penyelenggaraan pemilihan Paus yang baru yang Sri Paus sebelumnya meninggal 15 hari sebelumnya. Langdon dan Vetra terpaksa mendatangin Vatikan untuk memberikan peringatan. Setibanya di sana, mereka dikejutkan dengan penculikan keempat kardinal yang dinominasikan menjadi pengganti Paus. Pembunuh, penculik dan pencuri itu menelpon sang camerlengo (ketua bagian rumah tangga) hanya memberikan informasi tentang rencana membunuh keempat kardinal dan penghancuran Vatikan tanpa adanya permohonan atau penawaran. Tetapi pembunuh itu meninggalkan kata kunci yang hanya ditangkap oleh Robert Langdon sang ahli simbologi. Setelah berhasil menemukan rahasia terdalam dari Galileo dan Bernini, Langdon dibantu dengan Vetra membuka tabir persaudaraan rahasia yang selama ini diragukan keberadaannya, Iluminati dan Vatikan.

Misteri-triler selalu menggugah rasa penasaran saya dan saya selalu mempunyai ketertarikan khusus dengan buku-buku dengan genre ini. Karya Dan Brown bisa dikategorikan jenis JENIUS dan merupakan salah satu kisah yang saya favoritkan. Saya sangat menyukai gaya penulisannya yang berpindah-pindah sudut pandang sekaligus mengulur-ulur rasa penasaran pembaca dan itu sekaligus membuat rasa mencekam yang sempurna untuk kisah misteri-thriller. Dan Brown juga tidak pernah berbasa-basi, ia memulai rentetan misterinya dari bab awal sekalipun. 
Karena mengambil setting yang nyata (dan pastinya dengan riset yang dalam dan panjang) membuat kisah-kisah Dan Brown begitu nyata rasanya. Tampaknya itu juga menjadi kelebihan dalam karangan Dan Brown, selain fakta-fakta yang tersuguhkan, penguluran misteri dari awal hingga kisah selesai dan yang pasti pola fikir dan karakter setiap tokohnya. Buat kamu yang suka dengan misteri-triler atau kisah-kisah detektif, kisah Dan Brown satu ini pastinya tidak boleh kamu tinggalin.
Read More ...

0 comments