Judul : In My Room 
Pengarang         : Jerry Aurum
Rate         : "Memicu Kreatifitas...dan Kenarsisan"
Uhh Moment : “Foto Davy Linggar yang buram.”

Bagi saya, kesuksesan sebuah fotografi potret itu adalah ketika ia bisa merepresentasikan secara utuh (atau maksimal) citra diri dari seorang individu. Dalam foto, ia bisa terlihat benar-benar menjadi dirinya sendiri. Lepas. Walau pun diatur sebagaimanapun oleh si fotografer, si subjek dalam foto potrait tetap bisa merasakan bahwa dirinya ada di situ. Di dalam foto. Subjek bukan menjadi model yang harus merepresentasikan suatu tokoh atau subjek rekaan. 

Dalam seri foto potrait ini, Jerry Aurum mencoba mencari-cari kedirian seseorang itu langsung ke kamar pribadinya. Salah satu tempat utama di dunia ini yang memungkinkan seseorang benar-benar menjadi dirinya. Mengapa? Karena kamar pribadi adalah kuasanya. Ia yang paling berkuasa di situ. Privat. 

Jerry Aurum mengajak lebih dari 100 orang ternama dari berbagai profesi untuk dibuatkan foto potrait di kamarnya masing-masing. Satu persatu mereka didatangi Jerry Aurum bersama timnya. Ringgo Agus, difoto dengan posenya yang nyeleneh dan muda. Ia terlihat seperti baru bangun tidur dan memulai ritualnya, yaitu berasik-asikan dengan apa yang ada di dalam celananya. Lalu ada Dian Sastro yang difoto bersama anjing kesayangannya, Darwis Triadi—rekan sesama fotografer bagi Jerry—difoto dengan tampilannya yang begitu santai di kamar tidurnya. 

Yang menarik bagi saya adalah foto potrait Davy Linggar. Untuk yang belum tahu, Davy adalah seorang fotografer fine art. Foto-fotonya mungkin lebih sering tampil di galeri-galeri seni dibanding di majalah atau billboard. Nah, Jerry memotret Davy dengan sangat baik… dan keren. Ia bisa langsung membayangkan betapa misterius, abstrak dan nyeni-nya sosok Davy. Ya, dalam buku tersebut, Davy menjadi satu-satunya yang difoto tanpa mukanya terlihat jelas. Ia difoto sedang berada di balik kaca buram yang membuat muka dan separuh badannya hanya membayang, kabur. Dalam ketidakjelasannya itu, sosok Davy jadi begitu kuat. 

Dengan begitu, Jerry seolah mengabuli seluruh hasrat kita sebagai pemirsa. Bukankah kita selalu ingin tahu seperti apakah seorang public figure jika sedang berada di ruang privatnya. Bukan berada di ‘panggung’. Ketika melihat foto-foto di buku ini, kita juga tidak hanya melihat raut muka, pose dan pakaian yang dipakai si subjek saja, melainkan juga segala yang ada di kamarnya yang terpotret. Dalam foto Jerry, dekorasi kamar, kerapihan seprei kasur, benda-benda yang ada di kamar hingga warna cat temboknya menjadi elemen-elemen penanda identitas si subjek yang tak bisa dipisahkan. 

Proyek foto ini diselesaikan Jerry dalam kurun dua tahun. Menarik. Ia tidak terburu-buru. Artinya, konsep fotonya ini bukan karbitan. Seaneh apapun pose Dr Boyke bagi saya, ia tetap dibuat dengan ketelitian dan konsep yang kuat. 

Buku ini terbit 2009, sementara saya baru memilikinya tahun ini, 2014. Ada jeda lima tahun. Ini menjadi pengalaman menarik. Karena sejak 2009, orang-orang yang difoto Jerry di buku ini sudah memiliki cerita barunya. Melihat buku ini akan penuh “Astaga si dia masih...”. Ada foto Titi Dj bersama si gitaris Rif yang kini sudah menjadi mantan suaminya. Ada juga foto Dewi Lestari dan Reza Gunawan, mereka di foto sendiri-sendiri dan penempatan di buku pun terpisah banyak halaman. Dewi di foto sedang asik mengetik di atas kasurnya, Reza di foto sedang meditasi. Tanpa disangka mungkin, tak lama setelah foto itu dibuat, keduanya menikah. 

Satu hal lagi yang menarik bagi saya, yaitu dua artikel pengantar yang ada di buku ini. Keduanya ditulis oleh penulis fotografi senior. Oscar Motuloh menulis artikel pengantar yang isinya lebih banyak memuji dan Firman Ichsan menulis artikel yang sedikit mengkritik, menurutnya dalam melaksanakan proyek ini Jerry berhadapan dengan sebuah kebiasaan baru. Jika pada sesi foto komersil, Jerry punya kuasa untuk mengatur model, di foto-foto potret ini dia harus berhadapan dengan keinginan subjek atas citra dirinya dalam foto. Jerry harus bisa menyeimbangkan antara ego pribadinya dengan ego si subjek foto. 

Bagaimana pun saya suka kedua tulisannya. Dan keduanya membuat saya sedikit gelisah. Betapa apapun foto yang dipamerkan, entah itu dalam bentuk buku atau pameran, pasti hanya Oscar Motuloh atau Firman Ichsan yang menulis. Belum ada penerusnya. Selain itu, gaya penulisan mereka yang sedikit ‘berat’ menurut saya jomplang dengan bukunya yang pop. 

Leave a Reply