Harga : Rp  95.000
Harga Penerbit : Rp 250.000
Kondisi: baru (stok lama)
Tanggal terbit : 11 Maret 2009
Jumlah Halaman : 216
Ukuran : 33x23 cm


Dalam seri foto potrait ini, Jerry Aurum mencoba mencari-cari kedirian seseorang  langsung ke kamar pribadinya. Salah satu tempat utama di dunia ini yang memungkinkan seseorang benar-benar menjadi dirinya dan yang paling berkuasa di situ.

Dengan begitu, Jerry seolah mengabuli seluruh hasrat kita sebagai pemirsa. Bukankah kita selalu ingin tahu seperti apakah seorang public figure jika sedang berada di ruang privatnya. Bukan berada di ‘panggung’. Ketika melihat foto-foto di buku ini, kita juga tidak hanya melihat raut muka, pose dan pakaian yang dipakai si subjek saja, melainkan juga segala yang ada di kamarnya yang terpotret. Dalam foto Jerry, dekorasi kamar, kerapihan seprei kasur, benda-benda yang ada di kamar hingga warna cat temboknya menjadi elemen-elemen penanda identitas si subjek yang tak bisa dipisahkan.

Jerry Aurum mengajak lebih dari 100 orang ternama dari berbagai profesi untuk dibuatkan foto potrait di kamarnya masing-masing. Satu persatu mereka didatangi Jerry Aurum bersama timnya. Ringgo Agus, difoto dengan posenya yang nyeleneh dan muda. Ia terlihat seperti baru bangun tidur dan memulai ritualnya, yaitu berasik-asikan dengan apa yang ada di dalam celananya. Lalu ada Dian Sastro yang difoto bersama anjing kesayangannya, Darwis Triadi difoto dengan tampilannya yang begitu santai di kamar tidurnya. Selain itu ada juga Nisrina Jubir, Julia Estele, Happy Salma, dan lain-lain.

Buku ini menarik untuk dikoleksi, baik sebagai referensi konsep foto potrait atau pun sebagai cerita bergambar dari para publik figur kesayangan kita.



===

  • Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0856 9333 2218 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 


  • atau bisa juga dengan mengisi formulir di bawah ini:




  • Sesegera mungkin kami akan melakukan konfirmasi pemesanannya. 
  • Pembayaran dilakukan setelah mendapat email konfirmasi
  • Pembayaran dilakukan via tranfer ke rek BCA an Fertina Nurisa Mitra 884 023 9447
Read More ...

0 comments



Judul : Hanya Salju dan Pisau Batu-- 
Penulis : Pidi Baiq dan Happy Salma-- 
Rate : Menyenangkan sekaligus menyebalkan-- 
Uuh moment : "Alienasi"

Ini adalah buku kolaboratif. Ditulis oleh Pidi Baiq dan Happy Salma. Ah, kenapa saya malah menuliskan Pidi Baiq lebih dulu dibanding Happy Salma, berbeda dengan yang dituliskan di buku. Tak jelas apakah buku ini fiksi atau bukan. Tulisannya bercampur-campur antara curhatan, cerita fiksi pendek, cerita fakta berkedok fiksi dan gagasan serta opini yang bahkan terkadang kritis sekaligus filosofis.

Buku ini menyenangkan sekaligus menyebalkan. Menyenangkan karena bikin penasaran. Apakah gerangan yang akan menjadi tulisan balasan untuk tulisan sebelumya. Pertanyaan itu jadi bahan bakar yang membuat saya terus melanjutkan buku sampai habis.

Bentuk tulisan yang saling berbalas ini juga membuat saya teringat dengan budaya berkirim surat dengan sahabat pena yang belum pernah bertatap muka. Dan ternyata benar, Pidi Baiq dan Happy Salma saat menulis buku ini belum pernah bertemu sama sekali (Tapi dari situ timbul pertanyaan, apa yang membuat mereka berkolaborasi membuat buku. Hmm, mungkin karena Happy Salma selebritis dan dia membaca buku Pidi Baiq)

Aksi berbalas cerita ini mengingatkan saya pada kisah Mary dan Max di film Mary and Max, dua sahabat pena beda umur dan dipisahkan jarak yang begitu jauh. Mary di Australia, Max di Amerika. Mereka begitu intim bertukar kisah dan pemikiran, bahkan hingga bertahun-tahun. 

Berdasarkan pengalaman pribadi dalam berkirim kartu pos pun, saya juga merasakan serunya bertukar cerita dengan orang asing. Mungkin karena itu juga buku ini menyenangkan bagi saya. Entah gimana, saya malah bisa mencurahkan isi hati kepada orang yang saya tak kenal itu. Dan begitu jugalah yang terjadi pada buku ini, Happy Salma terasa begitu mantap menceritakan kejadian-kejadian di hidupnya. Buku ini pun tak jadi sepenuhnya buku fiksi, karena Happy bercerita seperti dia menulis diari. Dia bercerita tentang sosok Ayahnya yang ia cinta, tentang pertunjukan teater yang ia hadiri, tentang masa kecilya, juga tentang kegilasahannya atas gaji teman kerjanya yang sangat kecil.

Pidi Baiq, selalu merespon cerita-cerita Happy Salma. Entah dengan banyolan ngawur, uraian filosofis dan logis tentang apa yang dipersoalkan di cerita Happy Salma; dengan cerita fiksi yang satu tema, atau mengurai gagasan-gagasan kritis. Ya, di buku ini, Pidi Baiq sering sekali mengeluarkan sisi kritisnya. Contohnya, Pidi Baiq bahkan, dalam tulisan berjudul Alienasi, mengutip Karl Marx untuk merespon cerita Happy Salma tentang penghasilan seorang seniman. 

Sayangnya, dan juga curangnya, tulisan-tulisan Pidi Baiq sangat jarang direspon oleh Happy Salma. Hmm, apa memang kolaborasi ini memang dibuat satu arah? Ah, oke, catat ini sebagai hal yang menyebalkan dari buku ini.

Menarik untuk dicermati juga kehidupan Happy Salma ini. Tuturan ceritanya mencerminkan bagaimanakah gaya hidup masyarakat kelas menengah yang suka sastra. Dia berpenghasilan tinggi, bergaul dengan sosialita, ikut arisan rutin bersama ibu-ibu sekelasnya, menaruh atensi lebih pada detil, termasuk pada ketimpangan yang terjadi di lingkungannya, ia iba pada rekan kerjanya yang kerjanya berat tapi gajinya sangat kecil. Ia sadar gajinya berkali-kali lipat lebih besar daripadanya, ia juga sadar kalau rasa ibanya besar. Ia berbelas kasih. Tapi sayang, tanpa aksi. Ia hanya bisa diam, dan tak bekutik sedikitpun. Ia hanya bisa iba. Ah, persis sekali dengan kelas menengah lainnya yang berisik mengeluh di Twitter.


Pidi dan Happy sama-sama kelas menengah. Tapi mereka menjalani hidup dengan cara yang berbeda. Pidi gemar memberi uang kepada orang asing secara spontan. Ia juga akrab bergaul dengan tetangganya. Dan Pidi hidup apa adanya, sederhana dan otentik, persis seperti gaya tulisannya. Tidak berbunga-bunga mencoba nyastra seperti  gaya tulisan Happy Salma. 
Read More ...

0 comments



Harga : Rp 30.000--
Harga Penerbit: Rp. 49.000--
Kondisi : Baru (stok lama)--
Penerbit : Bentang-- 
Tanggal terbit : April 2011-- 
Jumlah Halaman : 294-- 


Berakhirnya orde baru ternyata tak serta merta membuat frekuensi milik publik bisa digunakan untuk menyiarkan kepentingan publik. Demokrasi bermedia ternyata dijadikan sekadar komoditas bagi para bos televisi. Alih-alih bisa merangkul masyarakat di segala penjuru Indonesia, televisi malah digunakan untuk kepentingan pihak tertentu dan menurut Ade Armando, televisi sekarang ini sangat Jakarta sentris. Tak salah jadinya kalau ada yang berkata bahwa media massa adalah penghancur kebhinekaan massa.

Buku ini akan menunjukkan bagaimana sistem pertelevisian yang sentralistis itu lahir, berkembang dan bagaimana itu merugikan kepentingan masyarakat luas. Buku ini juga akan memaparkan penjelasan serta ulasan sejumlah undang-undang terkait industri pertelevisian. Salah satunya yang paling penting adalah UU Penyiaran yang lahir pada 2002 yang diharapkan bisa membawa perubahan ternyata tak kunjung berjalan sesuai harapan karena adalahnya jalinan kepentingan antara pemodal dan negara yang menghambatnya.


===

  • Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0856 9333 2218 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 


  • atau bisa juga dengan mengisi formulir di bawah ini:




  • Sesegera mungkin kami akan melakukan konfirmasi pemesanannya. 
  • Pembayaran dilakukan setelah mendapat email konfirmasi
  • Pembayaran dilakukan via tranfer ke rek BCA an Fertina Nurisa Mitra 884 023 9447
Read More ...

0 comments


Judul            : 100 Kata. Kumpulan Cerita 100 Kata 
Pengarang    : Various 
Rate             : Ending Bikin Greget
Uhh Momen : "Tick Tock Tick Tock" Menunggu Ibu Pulang

Dalam pembuatan sebuah cerita, ternyata nggak melulu harus dimulai dengan modal ide tema, melainkan juga teknik pembuatannya. Itulah yang ditawarkan oleh buku Kumpulan Cerita 100 Kata ini. 

Seperti judulnya, buku kecil terbitan Antipasti ini, mengajak para penulis untuk bereksperimen, menuliskan satu cerita yang hanya terdiri dari 100 kata. Nggak kurang nggak lebih. Jelas, ini sangatlah menarik, apapun tema cerita, ia tetap harus menimbulkan kesan walau dalam ruang yang ringkas. Hasilnya, hampir seluruh cerita langsung menampilkan premisnya saja, tanpa basa-basi, langsung menuju konflik. 

Read More ...

0 comments




Judul : SPBU Dongeng Sebelum Bangun 
Pengarang : Pidi Baiq 
Rate : Bikin Niat Tidur Jadi Batal Karena Jadi Seger Ketawa. 
Uhh Moment : Ketika Alien Dip Dip Pop Melahap Baliho Bergambar Musuhnya. Hap! 

Saya kaget mengetahui kalau Pidi Baiq ternyata menerbitkan komik juga. Betapa saya ketinggalan info. Padahal saya ngaku fans beratnya Pidi Baiq, walaupun bobot badan saya hanya 62 kg. saya bukan fans yang berat. Menarik pasti kalau Pidi yang emang alur pikiran dan cerita-cerita yang dibuatnya itu udah komik banget, bikin komik. Jadinya komik kuadrat. 

Tapi ternyata Pidi Baiq tidak menggambar komiknya, melainkan ia dibantu oleh Rizki Goni. Pidi hanya menulis ceritanya. Tak apa. Tak menurunkan harapan saya. Buku ini tetap menarik sebelum saya baca. 

Jangan harap bisa mengerti isi buku hanya dari judulnya. Coba saja. Apa yang bisa kita dapat dari judul S.P.B.U Dongeng Sebelum Tidur? Ada yang sama seperti saya, mengira kalau Dongeng SEbelum Tidur adalah kepanjangan dari S.P.B.U?  kalau ada, berarti kita sama-sama terkecoh. 
Adalah benar bahwa buku ini berisi dongeng. Kalau kita baca ceritanya, kita pasti akrab. Pertama, tentang si siput yang adu lari dengan si kelinci. Kedua, tentang si kancil yang mengkibuli buaya-buaya di sungai sehingga ia bisa menyebrang. Nah, kalau biasanya kedua dongen selalu mengisahkan kebaikan dan disusupi pesan moral, sehingga baik untuk dibacakan sebelum tidur, di tangan Pidi dongeng tersebut jadi keluar jalurnya. 

Pidi memberikan ending baru pada dongeng lama itu. Si Siput tentu jadi tidak menang dari kelinci yang larinya cepat. Dia kalah sekalah-kalahnya, tidak seperti dongeng aslinya yang bercerita kalau si kelinci akan sombong di pertandingan dan tidur sehingga Si Siput bisa menang. Di akhir cerita, Pidi memberikan petuah “Jangan sombong karena sombong itu sangat menyakitkan orang yang belum memilki kesempatan untuk sombong.” 

Begitu juga dengan dongeng Si Kancil. Ia tidak jadi bisa menipu para buaya-buaya yang akan memangsanya itu. Karena bagi Pidi, masa iya sudah sekian puluh tahun dan sekian generasi, buaya masih saja ketipu sama akal bulus kancil. Saatnya emansipasi buaya! 

Hanya ada tiga dongeng dalam buku tipis ini. Dua di antaranya sudah saya bocorin ceritanya. Harus jugakah cerita terakhir ini? Baiklah. Sedikit saja. Yang ketiga ini kayaknya belum ada dongeng sebelumnya. Pidi mereka ceritanya sendiri. Bercerita tentang kedatangan alien besar menyerang bumi. Hingga kemudian ada seorang pahlawan datang menyelematkan. Di cerita ketiga inilah kita bakal tahu kenapa judul buku ini adalah S.P.B.U. 

Saya selalu suka karya-karya Pidi Baiq. Di dalam kesederhanaan, kekanakak-kanakan dan kejenakaan ceritanya, Pidi tetaplah Pidi, yang pernah kuliah Filsafat di Amsterdam dan pernah jadi Dekan di kampus ITB. Semua kebesarannya itu, sedikit-sedikit meninggalkan jejak juga di komik satu ini. 

Soal gambar. Saya tidak tahu persis cara menilainya. Tapi saya suka dengan wujud-wujud karakter yang ada di komik. Di dongeng ketika apalagi, pengadeganannya pas. Situasi perkotaan yang jadi set cerita juga keren. Suatu saat saya pengin menjiplak beberapa gambarnya. 

Buku ini seru untuk dibaca, apalagi kita hanya butuh paling lama setengah jam untuk melahapnya. 

Read More ...

0 comments

Judul : In My Room 
Pengarang         : Jerry Aurum
Rate         : "Memicu Kreatifitas...dan Kenarsisan"
Uhh Moment : “Foto Davy Linggar yang buram.”

Bagi saya, kesuksesan sebuah fotografi potret itu adalah ketika ia bisa merepresentasikan secara utuh (atau maksimal) citra diri dari seorang individu. Dalam foto, ia bisa terlihat benar-benar menjadi dirinya sendiri. Lepas. Walau pun diatur sebagaimanapun oleh si fotografer, si subjek dalam foto potrait tetap bisa merasakan bahwa dirinya ada di situ. Di dalam foto. Subjek bukan menjadi model yang harus merepresentasikan suatu tokoh atau subjek rekaan. 

Dalam seri foto potrait ini, Jerry Aurum mencoba mencari-cari kedirian seseorang itu langsung ke kamar pribadinya. Salah satu tempat utama di dunia ini yang memungkinkan seseorang benar-benar menjadi dirinya. Mengapa? Karena kamar pribadi adalah kuasanya. Ia yang paling berkuasa di situ. Privat. 

Jerry Aurum mengajak lebih dari 100 orang ternama dari berbagai profesi untuk dibuatkan foto potrait di kamarnya masing-masing. Satu persatu mereka didatangi Jerry Aurum bersama timnya. Ringgo Agus, difoto dengan posenya yang nyeleneh dan muda. Ia terlihat seperti baru bangun tidur dan memulai ritualnya, yaitu berasik-asikan dengan apa yang ada di dalam celananya. Lalu ada Dian Sastro yang difoto bersama anjing kesayangannya, Darwis Triadi—rekan sesama fotografer bagi Jerry—difoto dengan tampilannya yang begitu santai di kamar tidurnya. 

Yang menarik bagi saya adalah foto potrait Davy Linggar. Untuk yang belum tahu, Davy adalah seorang fotografer fine art. Foto-fotonya mungkin lebih sering tampil di galeri-galeri seni dibanding di majalah atau billboard. Nah, Jerry memotret Davy dengan sangat baik… dan keren. Ia bisa langsung membayangkan betapa misterius, abstrak dan nyeni-nya sosok Davy. Ya, dalam buku tersebut, Davy menjadi satu-satunya yang difoto tanpa mukanya terlihat jelas. Ia difoto sedang berada di balik kaca buram yang membuat muka dan separuh badannya hanya membayang, kabur. Dalam ketidakjelasannya itu, sosok Davy jadi begitu kuat. 

Dengan begitu, Jerry seolah mengabuli seluruh hasrat kita sebagai pemirsa. Bukankah kita selalu ingin tahu seperti apakah seorang public figure jika sedang berada di ruang privatnya. Bukan berada di ‘panggung’. Ketika melihat foto-foto di buku ini, kita juga tidak hanya melihat raut muka, pose dan pakaian yang dipakai si subjek saja, melainkan juga segala yang ada di kamarnya yang terpotret. Dalam foto Jerry, dekorasi kamar, kerapihan seprei kasur, benda-benda yang ada di kamar hingga warna cat temboknya menjadi elemen-elemen penanda identitas si subjek yang tak bisa dipisahkan. 

Proyek foto ini diselesaikan Jerry dalam kurun dua tahun. Menarik. Ia tidak terburu-buru. Artinya, konsep fotonya ini bukan karbitan. Seaneh apapun pose Dr Boyke bagi saya, ia tetap dibuat dengan ketelitian dan konsep yang kuat. 

Buku ini terbit 2009, sementara saya baru memilikinya tahun ini, 2014. Ada jeda lima tahun. Ini menjadi pengalaman menarik. Karena sejak 2009, orang-orang yang difoto Jerry di buku ini sudah memiliki cerita barunya. Melihat buku ini akan penuh “Astaga si dia masih...”. Ada foto Titi Dj bersama si gitaris Rif yang kini sudah menjadi mantan suaminya. Ada juga foto Dewi Lestari dan Reza Gunawan, mereka di foto sendiri-sendiri dan penempatan di buku pun terpisah banyak halaman. Dewi di foto sedang asik mengetik di atas kasurnya, Reza di foto sedang meditasi. Tanpa disangka mungkin, tak lama setelah foto itu dibuat, keduanya menikah. 

Satu hal lagi yang menarik bagi saya, yaitu dua artikel pengantar yang ada di buku ini. Keduanya ditulis oleh penulis fotografi senior. Oscar Motuloh menulis artikel pengantar yang isinya lebih banyak memuji dan Firman Ichsan menulis artikel yang sedikit mengkritik, menurutnya dalam melaksanakan proyek ini Jerry berhadapan dengan sebuah kebiasaan baru. Jika pada sesi foto komersil, Jerry punya kuasa untuk mengatur model, di foto-foto potret ini dia harus berhadapan dengan keinginan subjek atas citra dirinya dalam foto. Jerry harus bisa menyeimbangkan antara ego pribadinya dengan ego si subjek foto. 

Bagaimana pun saya suka kedua tulisannya. Dan keduanya membuat saya sedikit gelisah. Betapa apapun foto yang dipamerkan, entah itu dalam bentuk buku atau pameran, pasti hanya Oscar Motuloh atau Firman Ichsan yang menulis. Belum ada penerusnya. Selain itu, gaya penulisan mereka yang sedikit ‘berat’ menurut saya jomplang dengan bukunya yang pop. 

Read More ...

0 comments



Harga : Rp  15.000--
Harga penerbit: Rp 28.500--
Kondisi: Baru (stok lama)--
Penulis : Tatyana dan Hagung Sihaq-- 
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama--
Tanggal terbit :2006--
Jumlah Halaman : 77--
Ukuran : 13x20 cm--

Buku ini kecil. Berisi cerita-cerita pendek. Sangat pendek. Jarang sekali yang lebih dari dua halaman. Malah, cerita di satu halaman pun kadang masih menyisakan ruang. Cerita-ceritanya yang pendek itu, namun dalam. Sangat dalam. Tatyana menyoal polemik kota, perkara cinta, dan badai pikiran maupun perasaan dengan sudut pandang yang menarik.  Ada cerita tentang kekasih yang phobia dengan kata "kita"; seorang penjaja jamu yang butuh uang untuk mengawinkan anaknya yang tahu-tahu hamil. Selain tiga cerita itu, ada juga 22 cerita lainnya yang selalu disajikan dengan baik. Tatyana juga piawai dalam merajut kata. Diksinya luas.  Dan, asiknya, cerita-cerita pendek ini juga ditemani oleh ilustrasi ciamik dari Hagung Sihaq. Gambar-gambarnya sederhana, tapi selalu menyentil.
===

  • Pemesanan buku  bisa dilakukan dengan mengirimkan SMS ke nomor 0856 9333 2218 dengan menyebutkan: Nama, Alamat Lengkap dan Judul Buku Yang Dipesan. 


  • atau bisa juga dengan mengisi formulir di bawah ini:




  • Sesegera mungkin kami akan melakukan konfirmasi pemesanannya. 
  • Pembayaran dilakukan setelah mendapat email konfirmasi
  • Pembayaran dilakukan via tranfer ke rek BCA an Fertina Nurisa Mitra 884 023 9447
Read More ...

0 comments