Pintu Terlarang
Sekar Ayu Asmara
Rate: "Asik dibawa Kamar Mandi"
Uhh Moment: "Saat Gambir memasuki janin Arjasa ke dalam perut Talyda"
Sebelum kita memperhatikan judulnya, mungkin tampilannya dirasa kurang menarik minat untuk mendekat lalu meilhat sinopsis di baliknya. Tapi, hati-hati, cover bisa menjebak. Itu tugasnya. Karena manusia punya macam-macam persepsi. Di situ lah fungsi sinopsis berguna. Begitu yang saya rasa pada buku ini, Pintu Terlarang. Ya, judul yang sama dengan film karya Joko Anwar.
Seperti biasa, apabila sebuah buku yang difilmkan, pasti selalu ada komentar yang keluar. Paling tidak langsung memutuskan versi mana yang disuka, biasanya versi buku lah yang menang. Karena orang sudah terlanjur membacanya dan punya perspektif masing-masing terhadap ceritanya. Tapi Tidak begitu dengan Pintu Terlarang. Keduanya memiliki kekuatan dan kemenarikannya masing-masing. Dan perbedaan mencolok, ada di turning point endingnya.
Kisahnya masih sama, menceritakan seorang pematung sukses bernama Gambir. Gambir spesialis pematung Ibu hamil, banyak yang mengatakan patungnya sangat hidup. Di situ lah kunci kesuksesan karirnya. Tetapi tanpa istrinya, ide itu takan pernah muncul. Talyda yang menjadi inspirasi dan menemukan kunci menaikan karir Gambir. Pasangan ini dapat membuat orang yang meilhatnya iri, dengan fisik sama-sama unggul, karir pasangan ini juga sama-sama cemerlang. Belum lagi rumah tangga mereka terlihat sangat harmonis dan saling mencintai. Ada sebuah pernyataan yang selalu diungkapkan Gambir untuk menggambarkan kebahagiaannya mempunyai Talyda. Terlalu sering ia keluarkan, yang kemudian akan terkuak maksud dari kata-kata itu.
Gambir memiliki keluarga kecil, seperti Ibu yang bernama Menik Sasongko dan dua adik laki-laki dan perempuan, Damar dan Menur. Keluarga kecil ini juga terlihat bahagia, apalagi kebiasaan mereka selalu kumpul bersama di akhir pekan. Gambir juga memiliki dua sahabat, Rio dan Dandung yang selalu mendukung karir mematungnya. Tapi lambat laun, makin terlihat hal-hal yang janggal diantara kehidupan Gambir. Awalnya ia tidak memikirkannya, tetapi sebuah tabir langsung terkuak, tanpa pemberitahuan, tanpa perlahan. Sebuah tambir yang mengantarkannya pada kenyataan yang pahit.
Walaupun cerita dan alurnya tidak terlalu berbeda antara film dan bukunya, plot-plot yang ada di sudut pandang buku ini tidak bisa dilewatkan. Membaca akan tetap terasa asik, dari menontonnya. Misteri dan trillernya pun juga terasa, tetapi seperti yang saya katakan di atas, ada turning point di buku ini yang sangat berbeda dengan versi filmnya. Dan mempunyai keunikannya masing-masing. Tidak ada yang perlu dikritisi itu kembali lagi ke perspektif pembaca untuk memilih dan menilai.
Categories:
Buku Si Kupu,
fiksi,
ulasan