Catching Fire - Tersulut
Suzanne Collins
Uhh moment: Adegan di mana Katniss mengenakan baju buatan perancangnya sebagai ejekan untuk kapitol.
The second is better than the first!! Seenggaknya itu menurut saya. Saat saya membaca seri pertama, saya seperti membaca buku teenlit dengan kemasan baru. Apalagi dengan endingnya yang anti klimaks. Tetapi seri kedua berbeda. Suzanne Collins berhasil memutarbalik itu semua!
Kisah dimulai dengan kehidupan pemenang ke 75 Hunger Games, Katniss Everdeen dan Peeta Melark. Setelah berhasil mempermainkan pemenrintahan capitol dengan kemenangan dua orang pemenang, mereka harus menjalankan serangkaian kunjungan pemenang ke distrik-distrik, capitol, hingga kembali ke distrik mereka sebagai puncak arak-arakan pemenang, sebelum akhirnya mereka akan menjadi mentor di acara quarter quell. Quarter quell merupakan acara hunger games per 25 tahun sekali dengan games yang dirancang lebih menantang dan bahkan sampai mengundang dua kali lipat peserta.
Tetapi hidup Katniss yang membosankan sebagai pemenang tidak akan lagi bisa menyenangkan dan aman semenjak kejadian buah berry yang ia lakukan saat final hunger games untuk memenangkan ia dan Peeta. Ternyata tindakannya itu menyulut api pemberontakan di distrik-distrik lain, dimulai di distrik sebelas ketika ia mengunjungi distrik tersebut sebagai pemenang hunger games! Apa lagi pemberontakan itu semakin nyata dengan kedatangan langsung presiden Snow ke rumahnya yang baru di desa pemenang di distrik 12, presiden Snow mengancam Katniss untuk melakukan skenario capitol agar meredam api pemberontakan yg telah tersulut.Mereka harus memanikan lagi sandiwara dua pasangan merana yang sedang jatuh cinta.
Tugas yang seharusnya mudah karena sudah ia dan Peeta lakukan selama di arena Hunger Games, tiba-tiba mejadi sulit. Usaha mereka untuk memenuhi rencana capitol selama perjalanan pemenang dinyatakan gagal dengan timbulnya pemberontakan baru di distrik 8. Timbulnya pemberontakan-pemberontakan tersebut menyadarkan Katniss akan kebusukan capitol dan permainannya yang telah membuatnya menjadi boneka mereka. Dengan kenyataan itu, Katniss berusaha membalikan keadaan dan ikut mejungkirkan capitol, tetapi rencana tersebut tidak berlangsung lama hingga capitol mengeluarkan sejatanya, yaitu memasukan lagi para pemenang yang masih ada di setiap distriknya dalam quarter quell, yang otomatis mengharuskan Katniss (sebagai satu-satunya pemenang wanita di distrik 12)menjadi peserta lagi. Katniss sadar ini lah skenario selanjutnya capitol untuk melenyapkannya di depan para pemberontak. Harapan kembali digoyahkan. Tetapi satu-satunya hal yang capitol tidak tahu adalah sang mockingjay tidak akan pernah kehilangan suaranya untuk bernyanyi.
Seri kedua ini benar-benar tidak membiarkan orang yang membacanya duduk tenang sebelum mereka menyelasaikannya, setidaknya menurut saya. Dengan intrik-intrik yang ditutupi dari Katniss hingga akhir cerita membuat saya sebagai pembaca menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya pada sang Mockingjay atau Katnis yang sudah menjadi lambang pemberontakan itu sendiri. Belum lagi Collins yang sengaja membuat bigung pambaca dengan perasaan Katniss terhadap dua pria yang memiliki karakter bertolak belakang tetapi sama-Sama mencintainya mati-matian dan pastinya sama-sama memiliki ketampanan dan kelebihannya masing-masing.
Dengan pasangan dari distrik 12 Katniss dan Peeta sepertinya memperkuat kisah ini. Peeta yang lebih lembut, penyayang, penuh perhitungan dan mempunyai kekuatan disetiap kata-katanya dengan Katnis yang tangguh dan spontan membuat kisah ini semakin menarik, perbedaan antara Peeta dan Katniss lah yang membuat medan daya mereka jadi tarik-menarik. Selain kisah percintaan segitiga, kisah fantasi seri Hunger Games memiliki sisi nyatanya pula yang menarik perhatian saya. Adanya Hunger Games, pertahanan hidup di arena, pemerintahan Capitol dan serang-serangan yang dirancang oleh juri Hunger Games saat diarena, mengingatkan saya akan kehidupan ini. Dimana manusia akan selalu menghadapi apapun tanpa tau apa yang menunggu di depan sana. Dan juga kehebohan, ketidakpekaan dan juga mementingkan teknologi serta tidak akan terusik apabila kepenuhannya tidak terpenuhi rakyat capitol, sepertinya menjadi kritik dari penulis terhadap masyarakat modern sekarang yang sudah seperti robot dibandingkan manusia. Jadi selain menghibur dengan karya fiksi-fantasinya, Catching fire juga bisa membawa kita dunia dari segi buku faksi-fantasi ini dan juga lebih semangat membacanya dibanding seri pertamanya.
Categories:
Buku Si Kupu,
fiksi,
ulasan